Cuma Cerita Hari Sumpah Pemuda yang Kelabu – Normalnya saya ngga suka menuliskan hal yang membuat sedih. Cuma sepertinya kali ini pas untuk menceritakannya. Moga-moga ngga membuat semangat turun.
Mungkin ada orang tua homeschooler yang merasakan perasaan dilema ketika mengajar ke anak-anaknya seperti saya. Begini ceritanya:
Si Kecil Belajar Tentang Sumpah Pemuda
Menjadi homeschooler, kita sering jadi sosok edukator utama anak. Hal ini bisa terasa berat, tapi kita beruntung hidup di era banjir informasi. Selain buku fisik dan pengajaran langsung, kita bisa memilih sumber belajar dari internet. Tapi tentu saja kita harus tetap cek dan kurasi kontennya apakah sesuai untuk si kecil dan apakah datanya benar.
2 tahun lalu kalau tidak salah, saya yang sedang padat kerjaan lepas dan urusan rumah, memilih mengenalkan hari Kemerdekaan Indonesia melalui video online. Habis itu saya ngga begitu mengenalkan sejarah Indonesia. Kalau ngga salah di hari Pahlawan saya juga mengenalkan sejarah itu ke anak melalui kanal Youtube.
Kenapa juga saya memilih mengenalkan via video? Pertama, anak saya bukan anak yang suka crafting (jadi lupakanlah dekor hari Kemerdekaan dan hari-hari besar lainnya) kecuali main clay. Di rumah juga tidak ada budaya kemeriahan 17 Agustus (selain dari perumahan). Videonya juga menarik karena dikemas dengan animasi lucu.
Tak disangka, setahun lalu si kecil sudah tahu banyak mengenai kerajaan-kerajaan masa lampau Indonesia. Kerajaan Majapahit, Sriwijaya dan lain-lain. Saya agak takjub sih, memang ia suka menonton konten mengenai geografi dan sejarah negara-negara dari channel Youtube yang menampilkan animasi menarik.
Jadi, saya rasa belajar mengenai hari bersejarah Indonesia merupakan salah satu hal yang si kecil suka. Hari itu saya sudah menyiapkan materi belajar dan worksheet. Tapi ternyata lembar pertanyaan tersebut masih sulit dicerna si kecil, sehingga saya menyederhanakan tugas jadi membuat naskah sumpah pemuda di platform desain yang mudah dipakai anak.
Dibalik kegiatan belajar itu saya menyimpan rasa sedih karena pembelajaran si kecil ini kontras dengan situasi Indonesia saat ini. Melihat beritanya di internet, ada demonstrasi mahasiswa di hari bersejarah itu.
Hari Sumpah Pemuda 2026 yang ‘Kelam’
Hari Sumpah Pemuda terjadi karena keinginan bersatu dari golongan-golongan dan perkumpulan pemuda-pemuda dari daerah-daerah. Mereka mengakui satu negara, Indonesia dan satu bahasa, bahasa Indonesia. Dulu kita masih dalam naungan jajahan asing. Sehingga keinginan untuk memiliki negara sendiri sangat kuat, setelah dijajah sangat lama.
Kini? Terjadi demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, dari mahasiswa-mahasiswa negeri ini (salah satunya dari kampus saya juga, tandanya kondisi sudah sangat serius) dengan 5 tuntutan.
Dan saya mengikuti kondisi mereka dari media sosial dan sedikit dari akun media. Beberapa kota lain juga mahasiswanya turut demo. Keseluruhan demo berlangsung tanggal 28-29 Oktober 2026. Dan oh ya, ternyata ada juga yang ikut demo di luar negri!
Bagi kamu yang mengikuti berita Indonesia tentu tahu apa yang mereka tuntut. Karena situasi Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Yang pedih sih kebakaran hutan di Kalimantan, Papua dan pulau-pulau lain di Indonesia. Parah karena keterangan Air Visual di Kalimantan sampai hazardous alias berbahaya! Buka jendela dan pintu warnanya oren-kuning, dan bahkan merah suatu kali. Gambar tukang gerobakan tetap jualan di langit yang kuning bikin miris hati.
Sebenarnya saya pun agak mengalami batin yang sedih juga tahun lalu, di bulan Agustus, dimana juga terjadi demonstrasi besar. Tahun lalu ada beberapa perwakilan negara yang memperlihatkan sikap tidak peka pada masyarakat dan kebijakan yang memberatkan masyarakat. Mengakibatkan perwakilan-perwakilan negara tersebut diberikan sanksi dan Menteri Keuangan diganti (dan sekarang sudah diganti lagi).
Tapi tahun 2026 ini rasa sedih saya lebih lagi.
Yang Unik dari Demo 28 Oktober 2026, Tanda 3 Jari
Yang berbeda dari demo mahasiswa periode 28 Oktober 2026 ini adalah tanda unjuk rasa berupa tiga jari (telunjuk, jari tengah dan jari manis) dan slogan bertuliskan “If we burn, you burn with us.” yang merupakan kutipan ikonik dari seri film The Hunger Games.
Kalau mengingat kisah film yang berdasarkan novel itu, pemain-pemain Hunger Games ‘dikerjai’ petinggi-petinggi untuk saling mematikan satu sama lain dalam perlombaan eksklusif. Kisah Hunger Games naik karena ceritanya seolah menceritakan bagaimana penguasa berbuat seenaknya demi kepuasan mereka (dan tentu saja karena performa aktor-aktornya).

Ternyata tanda 3 jari ini bukan pertama kali digunakan di demo 28 Oktober 2026 ini. Sebelumnya tanda ini digunakan dalam demonstrasi Thailand dan Hongkong serta perlawanan di Myanmar di tahun-tahun sebelumnya. Gerakan three-finger salute ini menyimbolkan perlawanan pada kekuasaan.
Yang unik juga, selain seri Instagram story bertemakan demo ini juga ada Instagram Add Yours mengajak memilih lagu bertemakan perlawanan lainnya. Rasanya saya pernah melihat ada yang memilih lagu Michael Jackson, ‘They don’t really care about us’. Sebenarnya tren sosmed bertemakan demo memang bukan yang pertama kali. Misalnya tahun 2025 tren warna pink dan hijau menyebar di sosmed ketika demo Agustus.
Yah, saya cuma bisa bilang semoga aspirasi masyarakat didengar dan memiliki dampak positif. Terima kasih adik-adik mahasiswa sudah maju ke depan.
*****
Apapun gaya parenting kita, pastinya kita ingin yang terbaik untuk anak-anak kita. Tak apalah mereka belajar sejarah yang kini tertantang di negeri mereka. Semoga pahlawan-pahlawan dan penggerak kemerdekaan menjadi motivator untuk mereka karena berjuang demi negara.
Yuk baca tulisan blogger Banjarmasin ini untuk informasi bermanfaat lainnya. Semoga tulisan ini juga memberi pengaruh positif ya.
