Apakah Orang Jakarta ke Dufan Termasuk Travelling?

foto: bloomberg technoz

Apakah Orang Jakarta ke Dufan Termasuk Travelling? – Ketika ngomongin pengalaman travelling yang belum pernah diceritakan di blog, saya langsung mikir-mikir. Karena saya ngga termasuk orang yang sering jalan-jalan.

Dulu sempat punya blog khusus galeri foto, yang dimana isinya kebanyakan kalau ada foto-foto baru ya seringnya dibagikan disitu. Mirip seperti blogger Rafahlevi di blognya yang bercerita tentang pengalaman wisata, tapi dengan minim cerita.

Rasanya cuma 2 tempat yang belum saya bagikan pengalaman jalan-jalannya. Yaitu ketika honeymoon (agak personal) dan ketika ke wahana Dunia Fantasi. 

Dunia Fantasi adalah taman hiburan yang terletak di dalam Ancol, Jakarta Utara. Berhubung dari lahir hingga hamil saya berdomisili di Jakarta, ada beberapa kali waktu saya ke Dufan dan Ancol.

Kenapa Ngga Pernah Berbagi Pengalaman ke Dufan?

Kayanya tuh pergi Dufan atau Ancol bagi saya yang warga Jakarta, bukan travelling. Tapi cukup jalan-jalan (lho, sama aja ya??). Travelling menurut saya pergi keluar kota. Sementara letak Dufan di utaranya Jakarta, cuma menyeberang dari rumah saya dulu di Timur. Walau iya tetap saja jauh kalau berkendara ke sana.

Waktu kuliah, kakak-kakak senior mengadakan trip ke Dufan dari kampus di Bandung. Saat itu saya dan teman-teman asal Jakarta langsung ngga semangat. Karena been there done that aja. Bukan ada maksud sombong atau gimana, tapi bukan tempat yang baru untuk dikunjungi.

Tapi saya, keluarga dan teman-teman menganggap ke Dufan untuk refreshing dan bersenang-senang. Connect to our inner child, karena Dufan adalah taman hiburan.

Di dalam Ancol sendiri, yang bagaikan kota kecil sendiri, merupakan tempat yang super luas. Ada berbagai tempat berwisata lain didalamnya dan restoran, pantai dan hotel. Sering juga jadi tempat diadakan event seperti konser dengan massa yang besar.

Bahkan saya pernah ke Ancol untuk menghadiri pernikahan. Satu pernikahan sepupu saya. Satu lagi teman kuliah. Both was quite memorable.

Tapi jalan-jalan ke Dufan juga banyak kenangan. Rasanya hampir tiap fase hidup saya pergi ke Dufan.

Kora-kora adalah wahana Dufan yang paling buat saya mau teriak dan geli tingkat tinggi karena tingkat kemiringannya lumayan banget. Foto: Ancol.com

Pergi ke Dufan Bersama Keluarga dan Teman SMA

Memori paling awal ke Dufan adalah ketika pergi bersama keluarga. Alhamdulillah, dulu ketika saya masih kecil dapat tiket gratis dari kantor Ibu. Sehingga kami dapat tiket terusan. 

Biasanya kami manfaatkan dengan datang cukup pagi dan pulang agak malam. Ibu saya bahkan membolehkan saya bolos sekolah. Girang banget rasanya waktu itu. 

Saya pergi dengan kakak-kakak biasanya. Dengan Tante dan sepupu sepertinya pernah. Tapi nggak puas karena cuma bisa sampai sore. 

Barulah ketika ada sepupu yang sedang main di Ternate, itu merupakan hari terpuas main di Dufan. Sepupu laki-laki dari Papa yang sudah cukup dewasa sehingga bisa menyetirkan mobil dan mengawal kami main di wahana Dufan. Termasuk berteriak sepuasnya karena geli naik wahana Kora-kora.

Pernah juga ke Dufan bersama teman-teman SMA. Cuma saya ngga merasa momen ini cukup total. Karena di rombongan ada temannya teman yang ikut. Dan ngga gitu klik. Pulangnya juga ngga enak rasanya.

Jadi ceritanya ada teman SMA ada yang minta naik wahana Bianglala, padahal sudah dekat jam pulang yang disepakati. Kami jadinya ditinggal mobil yang disetir teman lain. 

Akhirnya kami pulang naik KRL. Saya turun di semacam spot tak resmi ketika kereta berhenti. Dan langsung naik angkutan yang jalurnya turun di depan rumah, Alhamdulillah. 

Agak ngeri karena ke stasiun Jakarta kota cuma bertiga dengan teman-teman, cewek semua. Tapi itulah, pengalaman ya.

Jalan-jalan ke Dunia Fantasi dengan Teman-teman Kerja

serunya naik wahana di Dufan dengan teman-teman yang kompak

Mungkin momen terakhir ke Dufan adalah ketika pergi dengan teman-teman kerja tahun 2009 (tahun saya juga sempat buat blog film, seperti salah satu bahasan artikel blogger Film Bandung ini). Kami naik busway yang pemberhentiannya memang di dalam Ancol. Agak lama naik bus tapi karena mengobrol dengan teman-teman jadi ngga gitu kerasa.

Momen ini cukup seru. Karena teman-teman sedang kompak dan kami juga rata-rata seangkatan diterima di tempat kerja (umur juga mirip-mirip, ngga beda jauh, kecuali ada satu karyawan senior yang ikut kami). 

Wahana komidi putar Dufan ketika malam hari tahun 2009

Tahun-tahun berikutnya, kami udah ngga sekompak itu. Pertemanan merenggang dan banyak yang pindah divisi, fase sudah berubah.

Lucunya, beberapa tahun berikutnya, ada yang menjadi pasangan sampai menikah. Tapi ketika jalan-jalan disini belum jadi, walau sudah terdeteksi keakrabannya (ciyee).

****

Sebenarnya pernah juga 1 kali saya ke Dufan dengan sosok yang batal jadi calon. Tapi kok saya ngga begitu mengingatnya. Kecuali ketika sedang antre arung jeram dan foto-foto. Mungkin otak secara otomatis menghapus memori yang tidak lagi dibutuhkan? 

Begitulah pengalaman saya ke Dufan dalam beberapa kesempatan. Saya belum lagi ke sana karena kayanya secara umur udah ga akan menikmati seperti dulu ketika lebih muda. Alhamdulillah atas nikmat memori yang menyenangkan ini.

Leave a Reply