Dilema Tas Branded – Sore itu Rara sibuk mendampingi si kecil ikut kelas online. Mayang masih 7 tahun, tapi tetap masih harus dibimbing dalam praktek kelas seni mingguan itu.
Rara melihat ponselnya berbunyi. Suaminya menelpon. Tumben, karena biasanya ketika di rumah Omnya ia jarang menelpon karena biasanya asyik ngobrol.
“Kamu baca WA aku nggak?”
Rara mengecek chat yang dikirim suaminya. Ia mengirimkan foto tas model tangan bermerk LW dengan khas warna coklat tua dan motif brandnya. Si suami bertanya, “Kamu mau tas ini, nggak?”
Setengah fokus Rara mencoba berpikir. Antara mengecek keadaan Mayang dan bingung..kenapa tiba-tiba suami menanyakan apa dia mau tas branded??
Suami yang Anti Barang Branded
“Buat apa beli tas (kemahalan) gitu? Aslinya (harganya) nggak sampai segitunya.” Si suami pernah berkata ketika mereka mengobrol tentang tas branded.
Mereka kemudian membahas bahwa kualitas barang bermerk yang kadang nggak jauh beda dengan barang lokal. Bahkan beberapa perusahaan branded pabriknya nggak jauh-jauh dari negara Asia juga. Menurutnya mereka bayar mahal karena berat di nama merk saja.
Pupus sudah kemungkinan Rara akan dibelikan tas branded oleh suami. Si suami nggak percaya dengan kekuatan brand ataupun barang bermerk. Baginya itu cuma akal-akalan perusahaan ternama saja.
Bukannya Rara juga ‘pemburu’ tas branded. Baginya tas juga harus nyaman dipakai dan fungsional. Buat apa punya tas mahal tapi akhirnya nggak terpakai. Atau nggak cocok dengan baju-baju yang ia punya.
Namun namanya juga wanita. Siapa yang ngga kepincut tas bermerk dan desainnya cantik? Normal saja kalau kadang matanya mengagumi etalase toko offline maupun online, menatap tas-tas yang menggoda iman belanjanya.
Nggak lama sebelum kejadian berikutnya, Rara berucap, “Nggak mungkin (suami) membelikan aku atau membiarkan aku beli barang branded.”

Branded VS Boikot
Mata Rara melebar ketika dia membaca ulang pesan di handphone dari suaminya. Ini nyata. Pak suami memang ingin membelikannya tas bermerk LW itu.
Sebentar. Ia mengecek ulang di media sosial daftar merk fashion branded yang diboikot. Gerakan boikot yang masif sebagai bentuk protes karena telah melakukan genosida ke rakyat P4lestina. Dan mata Rara kembali melebar karena ada LW di dalam daftar itu.
Di antara riuh kelas Mayang yang seru mempraktekkan tugas dan chat dari suami yang menuntutnya segera membalas, Rara berpikir ekstra membalas chat suaminya.
“Aku udah punya model tas seperti itu.” Rara membalas.
Rara nggak mau memiliki koleksi tas terlalu banyak, ia ingin cuma punya model dan jumlah tas secukupnya saja. Ia memperhitungkan nanti bagaimana jika dihisab di akhirat kalau ia punya sederet barang yang tidak pernah dipakai.
Menyadari bahwa wanita ‘normal’ lain akan dengan senang hati mengiyakan tawaran suami yang jarang-jarang menawarkan beli tas bermerk, ia harusnya diberi penghargaan karena malah menolak.
Rara meletakkan ponselnya kembali dan mencoba fokus mendampingi Mayang. Ia pikir, problem sudah teratasi.
Walau benak hatinya agak ragu, apakah tindakannya benar telah menolak tawaran suaminya.
Rara punya 1 tas kulit lokal yang dibelikan suami. Ketika Ibunya setengah meminta tas itu karena kualitas kulitnya bagus, Rara menolak dengan alasan sayang karena dibelikan suami.
Tapi ternyata, suami masih juga mengharapkan Rara mempertimbangkan ulang. “Bener kamu nggak mau? Tanteku nih yang jual.”
Tapi idealisme Rara lebih kuat. Ia bilang, “Nggak usahlah. Lagipula, aku udah ada model tas seperti itu.”
“Bener nih? Kalau nggak aku belikan untuk Ibu aku aja.”
“Iya.”
Idealisme VS Menerima Rejeki
Rara sudah hampir lupa suaminya menawarkan tas itu, lantaran sibuk menemani Mayang belajar. Tapi, lagi-lagi pak suami menanyakan.
Rara berkesimpulan bahwa suaminya memang berniat membelikan untuknya. Kalau nggak, kenapa dia harus bertanya lagi dan lagi.
“Itu brand-nya kan lagi diboikot.”
Namun Rara ragu suaminya akan menyetujui tindakannya. Rara melihat bahwa suami nggak merasa gerakan boikot itu akan berpengaruh besar. Bahkan berpikiran gerakan boikot justru akan menyengsarakan pegawai-pegawai perusahaan dari merk-merk yang diboikot.
“Ini kan barang second.” Suami berkata, “Aku mau belikan untuk bantu dagangan Tante aku.”
Ah, begitu. Rara jadi nggak enak karena menolak.
“Oh gitu. Oke deh. Iya aku mau.”
Jika memang niatnya untuk membantu saudara, Rara menurut saja.
Sepulang dari rumah Omnya, suami masuk rumah. Rara memperhatikan, lho mana tasnya?
“Ada di mobil. Aku lupa mengeluarkan.”

Sepertinya pak suami ragu menurunkan si tas karena nggak yakin Rara mau dibelikan. Kemungkinan ia mau memastikan Rara mau ambil nggak tas itu. Atau, Pak suami mau menggodanya saja.
Akhirnya, walau semi-ingin-tapi-ragu Rara mengambil si tas. Menjemput tas yang memberikannya dilema. Tas itu memang di dalam kantong plastik tapi ada boks original dan bon asli. Rara masih nggak percaya ia memiliki tas branded itu.
Memakai Si Tas Branded
Ada sedikit rasa khawatir ketika Rara memakai tas tersebut. Ia merasa mereka yang sedang ikut memboikot akan menghakiminya. Kok sosok yang menyuarakan boikot online maupun nyata, akhirnya malah memakai merk yang diboikot?
Namun, bagaimana Rara nggak memakainya? Sia-sia jika si tas cuma duduk di rak lemari sementara harganya tergolong mahal.
Dan lagi suaminya sudah berniat memberikan kepadanya. Rara menerima tas itu dengan alasan pemberian suaminya dan memakainya karena ia menghargai perhatian suami. Bagaimana mungkin ia menolak rejeki?
Suatu ketika, Rara memakai si tas untuk beberapa kali pertama. Ia cukup berhati-hati nggak memakainya ke rumah keluarga. Karena menurutnya kalau ke rumah saudara, nggak perlu memakai sesuatu yang wah.
Hari itu rencananya Rara cuma mampir ke pertokoan dan sepulangnya, pak suami mengajak ke rumah Omnya kemarin. Di rumah Om, ada Ibu mertua, Tante yang menjual tas branded dan anak perempuannya, Olla.
“Bagus banget sih tasnya.” puji si Tante. Rara nggak tahu apakah si Tante benar memuji atau setengah jadi sales. Tante ini memang memiliki kemampuan bicara yang mumpuni. Si Tante menawarkan lagi koleksi tas lain, yang Rara secara halus menolak (karena takut jarang dipakai).
“Olla, lihat deh. Tas Rara bagus ya.” puji Ibu mertua. Sepupu suami Rara itu melihat tas Rara yang diletakkan di pojok ruangan, antara mengamati dan mengagumi. Ia sedikit terlihat berkecil hati. Sebelum jadi Ibu 2 anak, Olla memang terlihat suka memakai barang fashion terbaru.
Rara nggak tahu harus merasa seperti apa. Ia malah merasa nggak nyaman. Berbeda kalau ia memakai tas biasa, atau tas kulit lokal yang dulu pernah dibelikan suaminya juga.
Perempuan normal mungkin senang dipuji memiliki tas bagus, tapi Rara malah merasa canggung. Ia tak suka juga perasaan bahwa orang lain mungkin merasa Hasad atau iri dengan barang kepunyaannya.
Rara sadar bahwa inilah ‘harga’ memiliki tas bermerk. ‘Harga’ memakainya yang mungkin bisa memancing iri dan insecure orang lain, buat orang lain yang memilikinya mungkin itu purpose-nya. Tapi tidak buat Rara.
Kini tas itu disimpan di lemari. Menunggu dipakai di ‘waktu tertentu’.
Tas bermerk memang berbeda dari tas biasa. Nggak cuma dari harga, tapi dari dampak memakainya. Seseorang mungkin harus merenung, apakah harga dari tas branded sesuai dengan efeknya?

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli 2025 bertema “Fashion”.

Tas branded oh tas branded ehehe. Wah aku belom pernah sama sekali beli tas yang harganya belasan atau puluhan juta, karena bagiku di luar nurul. Ehehe.
Pun, aku gak bisa paham jenis-jenisnya. Cuman tahu dari obrolan orang-orang di Threads.
Banyak ibu-ibu yang mengeluh, setiap kali memakai tas branded, ada saja temennya yang nanya, “Ini asli atau KW?” Wkwkwkwk.
Karena kisah ini pulalah, bikin aku makin gak kepikiran buat membelinya.
Aku sependapat sama Rara. Memilih tas yang awet dan fungsional, yang bahan kulit bagus, gak berarti harus yang bermerek internesyenel puluhan juta.
Pun aku juga akan melakukan hal yang sama dengan Rara, kalau dihadiahi Pak Suami, tetep menerimanya.
Pernah kepingin punya hehehe… Trus gak jadi kepingin, karena dipikir-pikir mendingan beli buku atau Lego buat anak-anak.
Barang branded yang keliatan brand-nya atau bentuknya yang beda emang pasti jadi conversation starter. Aku gak punya barang branded, tapi suamiku punya satu jam tangan yang harganya agak gak normal kalau dirupiahin. Buat orang yang tau soal jam tangan, pasti langsung ngeuh dan jadi bahan perbincangan. Padahal suamiku beli itu bukan buat gengsi. Emang orangnya suka beli barang yang sekalian mahal, long lasting, dan valuenya sesuai dengan harganya.
Temen saya ada yang tau banget tentang tas, ternyata memang dia suka sekali. Hanya belakangan daftar belanjanya teralihkan ke kebutuhan kedua anaknya. Sekarang anaknya sudah mulai pada bersekolah jadi waktu dia lebih luang. Kembali hidup hobinya ini.
Bahkan dia pernah curhat ada rasa sesal jadi agak sering belanja tas, padahal dia tahu sudah punya lebih dari cukup. Sepertinya ini pelampiasan dari rasa sepinya dan coping stres juga yang bertahun2 LDM dengan sang suami.
Sepertinya aku bukan termasuk perempuan normal. Udah warning ke suami jangan pernah ngebeliin tas LW itu. Bukan apa-apa: duitnya mending dibeliin tiket ke Indonesia. Bisa buat berempat kan, itu!? Meski paksu ga ada niat juga sih, keliatannya! 😂 ✌️
Sebenernya sih, ada harga ada rupa. Barang branded nggak semuanya overprice. Tapi untuk tas, atau bahkan dompet, aku ga pernah pengen beli yang mahal-mahal. Jangan sampai punya dompet harganya puluhan juta, isinya cuma receh di dalamnya kan, hehehe.. Satu lagi sih, buat apa dibeli kalau cuma dipakai sama lemari? Kalau aku terlanjur dibeliin paksu barang mahal, aku akan pakai setiap hari sekalian uji kekuatan apakah emang brand itu bagusnya segitunya atau gak. Atau kalau aku ga mau pakai, aku bakal jual aja, uangnya simpen ke SBN hihihii…
Sepupuku ada yg pakai tas branded “H” itu loh. Selain harganya setara rumah yg pasti aku engga bisa beli & engga pengen, krn modelnya engga cocok. Satu lagi, bawa tasnya tuh kudu gaya tertentu gitu loh, ditarok di pergelangan tangan. Engga bisa ditenteng sembarangan. Pastinya ditaroknya engga mungkin di lantai juga tuh…haha…Duh, repotnya.
Sebuah keberuntungan berada di circle yang nggak tahu bedanya kas KW atau Branded. Aku cuma tahu tas modelnya cocok dan nggak cocok aja. Beneran deh, hidup terasa lebih sederhana karenanya.
Nggak minat beli tas-tas begituan. Selain harganya nggak masuk akal di otakku, modelnya juga bukan aku banget hehe