Skip to content

Rindu Tahun 90an dan Tantangan Orangtua Masa Kini

Dear 90s,

Saat ini diriku sedang merindu eramu. Tahun 90an adalah tahun-tahun diriku beranjak besar dari SD hingga SMA. Tahun-tahun sederhana dimana tidak perlu dipusingkan dengan banyak opsi sana-sini. Sesederhana menunggu hari Minggu jam 8 pagi demi nonton Doraemon di TV. Dan tidak perlu khawatir dengan tontonan tak pantas, karena di eramu yang kontennya menyerempet dikit pasti disensor di TV.

Tahun 90an juga masa-masa aku baca komik dan novel remaja. Komik-komik yang isi ceritanya simpel dan lucu, seperti Doraemon, Miss Modern, Candy Candy dan lainnya. Waktu kecil suka baca majalah Bobo juga. Saat remaja jadi suka baca novel remaja seperti Girl Talk dan majalah Gadis.

Kini semua beralih digital. Entahlah apa ada majalah anak dan remaja masa kini. Membaca bisa dengan e-book tapi tetap paling nyaman baca di buku fisik. Sudah ada web toon, tapi kenapa iklan-iklan yang aku dapat isinya romance penuh intrik dan cenderung menjurus? Mungkin karena target marketnya emak-emak penyuka cerita romantis.

Belum lagi membaca berita tentang komik yang berisi segala rupa. Ada saja berita tentang orangtua kebablasan mendapati anaknya suka dengan cerita menyimpang. Naudzubillah min dzalik.

Kini aku khawatir dengan segala hal yang ditonton anakku. Aku berusaha mengawasi maupun menyortir yang ia tonton di Yutub. Alhamdulillah memang tidak semua jelek, namun meski berlabel Kids, kartun ataupun tontonan lucu, kadang-kadang ada saja selipan yang bikin tidak sreg.

Bahkan tidak seharusnya dimasukkan ke konten anak kecil. Sungguh di eramu, opsi tontonan begitu disederhanakan dan telah di-filter lembaga sensor. Namun aku bersyukur Doraemon masih ada di Yutub, sehingga anakku juga ikutan suka.

Suatu kali anakku menyebut-nyebut Squid Game dan Among Us seperti ingin tahu. ‘No’ jawabku. Cukup melihat ringkasan cerita dan ratingnya sudah nggak mungkinlah dikasih lihat ke anak balita. Bingung juga si kecil tahu darimana.

Dear 90an,

Tontonan di eramu masih sopan namun tidak berarti membosankan. Ada sitkom-sitkom semacam Friends, Full House dan Golden Girls. Di masa remajaku booming serial remaja Dawson’s Creek dan Buffy The Vampire Slayer. Ini juga era naksir Keanu Reeves gara-gara film Speed. Memang masa gandrung aktor dan aktris barat.

Aku nggak suka tontonan remaja sekarang yang nggak jauh dari kebanyakan mem-bully, sudah berani rated XXX dan bahkan sampai berbau kriminal (yang dijustifikasi alias dibenarkan karena menjadi korban). Jadi aku agak worry kalau anakku nanti remaja terpapar tontonan seperti ini. Mungkin bakal aku jejali dia kegiatan olahraga atau hobby biar tidak sibuk nonton.

Kalau dipikir-pikir kenapa dulu sempat sitkom Barat tidak lagi boleh ditayangkan di TV Nasional di eramu, ya karena ngeri budaya semacam ini ditiru generasi muda. Tapi karena sekarang sudah masuk layanan streaming online, itu pun tantanganku sebagai orangtua lebih berat. Karena yang harus mem-filter harus dari orangtua. Lalu, untuk melarang keras pun aku khawatir anakku jadi ngumpet-ngumpet dan tidak cerita.

Tak usahlah bicara filter tontonan anak kecil, aku sendiri sering banget susah memilih film yang mau ditonton di layanan streaming… karena sudah malas menonton dari membaca summary alias sinopsisnya. ‘Kok begini, kok begitu. Nanti pasti begini, nanti ceritanya begitu’. Cukup judgemental, tapi rata-rata film sekarang sudah berformula mirip-mirip. Aku malas nonton yang vulgar maupun absurd. Bukannya sok, tapi lebih menjaga pikiran. Everything can influence you, dari apapun yang kita konsumsi.

Mungkin itulah kalau nonton film atau serial 80an atau 90an lebih cocok, karena lebih sederhana. Tontonan sekarang begitu banyak plot twist karena takut kehilangan audience, hingga akhirnya plot menjadi aneh. Mesti isinya ada sedikit vulgar atau selingkuh-selingkuh. Kesederhanaan itulah yang mahal di era sekarang.

Sumber: Pinterest (Buzzfeed)

Dear generasi 90an,

Mungkin kalian kangen juga dengan kaset, floppy disk, Sinetron Si Doel Anak Sekolahan (yang sudah ada lanjutannya versi layar lebar). Dan mainan non-digital semacam main ular tangga, orang-orangan kertas, monopoli hingga lilin mainan.

Karena sekarang, anak-anak ujung-ujungnya main games di handphone. Padahal sudah diupayakan agar anak tidak pegang gadget, namun ya susah kalau teman sepantaran juga sudah terpapar. Dan, susah juga kalau kerjaan ibu bapaknya juga harus menatap layar.

Katanya, anak-anak generasi 90an adalah generasi terbaik, diantaranya karena minim terpapar internet dan tidak insecure lihat sosmed maupun ada tuntutan eksis online karena cuma selfie sama teman-teman saja di photobox. Sungguh aku berharap anakku tidak punya akun sosmed sampai umur 20an. Budaya pamer ini tidak sehat. Kalaupun pamer, pamer skill yang positif saja.

Memang sih dari gadget juga tidak melulu buruk. Anak bisa juga belajar melalui internet dan akses informasi begitu banyak. Salah satu tontonan yang didapat dari internet juga ada kisah Nabi yang suka ditonton anakku. Bahkan kita sekarang begitu dijejali informasi sehingga kewalahan. Yang repot kan kalau terlalu terbuai kemudahan teknologi dan jadi lupa real connection, kehidupan diluar layar dan sebagainya. Mungkin disinilah pentingnya kita sebagai orangtua mencontohkan yang seharusnya dicontohkan. Our kids going to copy what we do.

Ada yang bilang, tantangan orangtua sekarang adalah yang terberat. Ini satu pernyataan yang buat khawatir aku. Tapi Allah sudah menitipkan anak, berarti insya Allah segala tantangan bisa dihadapi. Karena menjadi orangtua, juga ikutan belajar. Menjadi lebih bijak dan kadang tertampar sama yang dicontohkan sendiri. Alhamdulillah saya dapatkan dari support group juga yang insya Allah memberi pengaruh positif.

Dear tahun 90an,

Sejujurnya di eramu bukan tanpa hal yang nggak-nggak. Mungkin karena internet belum mendunia sehingga semua terasa ‘terjaga’.

Semoga aku bisa mempertahankan kesederhanaanmu paling tidak di rumah sendiri, diantara praktek belajar di rumah dan kebersamaan lainnya bersama keluarga. Karena sesungguhnya mungkin, kesederhanaan itu dari hati.

Aku tak punya misi khusus menulis tulisan ini selain demi menuntaskan ajakan Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan Januari 2022. Juga, aku pikir membicarakan tahun 90an bakalan seru, dibarengi berkeluh kesah sebagai orangtua di era digital. Begitu saja. Bagaimana pendapatmu?

20 thoughts on “Rindu Tahun 90an dan Tantangan Orangtua Masa Kini”

  1. Wahh bagus sekali isi suratnya, Andina. Unik ehehe.

    Iya Andina, menurut saya tahun 90an itu best moment, banyak kartun bagus tiap hari Minggu pagi ehehehe, yang bisa ditonton rame rame sekeluarga. Lalu mau ga mau harus sabar menunggu sambungannya minggu depan, ga semudah jaman sekarang, sehatian bisa binge watching, namun disinilah keindahannya, adanya MASA MENUNGGU membuat kita menghargai banget waktu dan kesemoatan 🙂

    Despite that, saya akui generasi anak-anak kita bakal menghadapi tantangan yang beda dengan jaman kita. Mereka juga lebih pintar, dan bahkan menurut saya, mereka lebih berwawasan; sudah aware mengenai peace of mind, mental health, inklusivitas, tidak seenaknya dalam berkata kata atau membully, dan masih bayak lagi.

    Sebagai orangtua, berpegang pada metode Bapak Ki Hajar Dewantara, bisa diterapkan di berbagai zaman. Ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

    Nuhuun pisan Andina, tulisannya kereeen 🙂

  2. Wah Andina ada bayi baru lagi ya, selamat untuk blog barunya Andina.
    Salah satu hal yang paling kurindukan dari jaman dulu adalah ga ada HP hehe. Beneran deh, ada HP ini walau banyak positifnya tapi lebih banyak negatifnya. Kayanya hidup tanpa HP itu lebih sederhana.

    Anak-anak kita sekarang dibesarkan oleh orang tua seperti kita generasi 90an, semoga kita bisa istiqomah ya Andina, mendampingi anak-anak kita.

  3. teh Andina … aku tahun 90 udah kuliah.
    nah … pas punya anak pertama tahun 96 jadi deh kenalan sama komik doraemon gegara di rumah gak punya televisi.
    15 tahun gak punya televisi sejak menikah itu sesuatu banget deh!

    iya benar sekarang tantangan teteh anakku bungsu lebih keras karena dipaksa harus punya gadget dan terhubung dengan internet karena pandemi ini. padahal kalo di pondok kan gak boleh bawa gawai.

    salam semangat ya teh … peluk sayang untuk anaknya.

  4. Teh Andina, gegara membaca ini, saya jadi teringat dragon ball. Hehehe, krn adikku laki, jadinya bacaannya ga terlalu demen candy candy..tapi dragon ball. Dan berlanjut ke detektif Conan. Era ini memang best moments.. semoga banyak yang bisa ditiru yaa..walopun hanya dilingkungan rumah.nuhun yaa teh

  5. Aku anak 90an hehehe team doraemon dll yang start jam 8 pagi di RCTI. Udah nggak ada candy-candy, adanya sailormoon. Jaman sekarang lebih kompleks teh isu yang dibahas. Memang kalau kurang hati-hati banyak jebakan batman, konten dewasa berbalut kartun anak. Ngeri 😦

  6. Baca ini seeprti bernostalgia!
    Tapi memang entah kenapa hari hari di 90s itu berasa jauh lebih aman dan jauh dari kekhawatiran dibanding sekaeang sekarang ini ya.

  7. Sebagai anak yang juga besar di era 90-an, edisi kenangan yang disebutkan relate banget sama aku alamin dulu. Dan memang rasanya hidup lebih tenang tanpa atau minim gadget. Melihat tantangan yang dihadapi anak zaman sekarang, mau ga mau ortu harus ekstra belajar untuk bisa mendampingi anak-anak tumbuh dengan baik, ya.

  8. Hadir! Aku juga gen 90an! Hihi.. Doraemon jam 8.. trus sebelumnya ada kartun apa ya, wedding peach atau apa gitu ya namanya jam setengah 8.. trus crayon sinchan jam 9an.. xD

  9. Setuju teh, sosmed itu nggka baik banget terutama buat anak2. Karena mereka masih rentan banget dengan rasa membanding-bandingkan. Belum tahu yang mana yang harud diikutin atau yang mana yang ya udah biarin aja meskipun orang lain begitu.

    Anak-anakku umur 9 dan 8 skrg dan aku nggak batasin banget soal gadget. dan sosmed dll sama sekali belum tahu. Sempat nanya2 soal tiktok aku nggak kasih ijin juga. Serem euy nggak ada filter!

  10. Pingback: Mengenang Ternate Trip Tahun 2010 - tulisandin

  11. Sebagai generasi yg besar di tahun 90an, aku ngertiiiii banget ini. Kangeen ya mba Ama masa2 itu. Kangen Ama hubungan pertemanan yang lebih real, ga hanya lewat medsos dan dunia Maya.

    Akupun skr bisa dibilang ga nonton tv samasekali Krn merasa isinya udah sampah. Sebagai ganti jadi memang jadi langganan aplikasi film2 kayak Netflix dan Disney. Tapi itupun hati2 juga milih tontonan. Untungnya bisa dipisah antara tontonan anak dan dewasa.

    Serial yg dulu selalu tunggu pun Doraemon mba. Dan itu nurun ke anakku 🤣. Segitu sukanya mereka Ama Doraemon sampe pengen datang lagi ke museum Doraemon di Jepang , kalo ntr Jepang udah buka border 😄.

  12. Pingback: Berkesenian, Aktivitas Favorit Yang Suka Dikesampingkan - tulisandin

  13. Kayaknya dulu enggak ada yang beli sitkom barat karena mahal kali ya. stasiun TV masih TVRI. belakangan ada RCTI SCTV dkk. seriesnya dulu kayak si doel sama keluarga cemara. lalu ada sinetron2 awal punjabi kayak abad 21, doaku harapanku 😀 masih inget coba. gawat

  14. Pingback: Review Serial Gadis Kretek (2023) - tulisandin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *