Belajar Menata Hati, Pelajaran Seumur Hidup

menata-hati.jpg

Belajar Menata Hati, Pelajaran Seumur Hidup – Ketika masih di usia 30 tahunan, tepatnya setelah anak sudah mulai bisa sedikit lebih mandiri dan webinar bertebaran di dunia maya, saya sangat haus dengan belajar. Saya nggak sangka, mungkin karena beberapa tahun fokus menata hidup baru karena menikah dan punya anak, tanpa saya sadari saya rindu belajar. 

Tepatnya rindu belajar mengikuti passion dan minat. Tahun 2019 dan 2020 saya kembali ngeblog karena saya rindu mengekspresikan dan menyuarakan bahasan yang saya ingin tuliskan. Maka saat itu bersamaan dengan banyak webinar mengenai blogging, mungkin hampir saya ikuti semuanya. 

Ketika anak mulai harus diperhatikan pelajaran di rumah atau homeschooling, baru saya agak mengurangi. Tapi rata-rata tiap tahun sih selalu ada topik yang saya ingin kuasai. Misalnya, tahun 2023 saya mulai belajar diet dan gaya hidup sehat

Tapi tahun 2025 saya mengalami sedikit ‘teguran’ dimana saya jadi mempertanyakan banyak hal. Sampai ujung-ujungnya ketika ditelusuri..sampai cek ke niat dan tujuan saya dalam melakukan segala sesuatu.

‘Dalem’ banget nggak sih? Mungkin ini karena saya sudah masuk usia 40 tahun, dimana sudah ngga boleh ngga mau belajar sebagai muslim. Jadi, sepertinya tahun 2026 ini saya masih berusaha belajar menata hati.

Kenapa Menata Hati?

Perhatikan, setiap kali kita melakukan sesuatu pasti awalnya dari drive atau keinginan. Nah dari situlah segala sesuatunya mengakar. 

Kalau keinginan untuk lebih kaya, pasti output-nya berbeda dibanding keinginan untuk hidup lebih baik atau misalnya kaya untuk ingin lebih banyak bersedekah. Kalau keinginan mau pintar, pasti cara kita mendapatkan keinginan itu berbeda jika goal-nya demi masa depan terjamin dibanding goal-nya demi hidup lebih praktis atau smart.

Intinya, segala sesuatu mengakar dari hati dan niat. Bahkan, seseorang yang memulai dengan hati yang murni, dalam perjalanannya hati bisa ‘diam-diam’ berbelok ke hati yang ‘mau lebih’. Misalnya, mau mendapatkan pujian dari orang lain, prestige atau jadi berorientasi dunia lainnya.

Bukankah ada unsur kesia-siaan, jika kita mengejar sesuatu dengan niat yang salah? Segala energi dan usaha kita, ternyata mengakar dari hati yang ngga tulus atau negatif misalnya?

Itulah alasan menurut saya hati harus selalu dijaga. Ngeri deh kalau niat sudah berbelok maunya. Lebih ngeri lagi kalau kita ngga sadar dengan niat hati yang ngga murni. Arus hidup berjalan dan kita berada di jalur yang ngga seharusnya. Naudzubillah min dzalik…

Beda Usia, Beda Cara Mengendalikan Hati

Mungkin kira-kira di usia produktif jelang akhir, saya selalu berusaha membersihkan hati. Misalnya, saya dapat perlakuan jelek dari orang lain. Kalau di usia lebih muda misalnya remaja atau 20 tahunan, hal itu akan membuat saya uring-uringan atau kesal dan emosi. 

Tapi saya belajar bahwa keseringan berasumsi dan berprasangka membuat hati saya ‘kotor’. Dan mindset saya jadi negatif. 

Maka saya selalu berusaha ‘bersih-bersih’ hati dengan berpikir positif. Apalagi kalau ternyata masalahnya bukan di saya. Alias, orang lain yang punya penyakit hati. 

Khususnya di usia 30 tahunan, saya kurang lebih bisa mengendalikan hati ketika mulai baper atau emosi karena mendapat perlakuan tidak sesuai. It’s not my problem kalau orang lain merasa terancam atau tersinggung egonya karena hal yang saya sadar maupun tidak sadari lakukan (selama saya ngga punya niat jelek), begitu sih kalau membatin. 

Tapi mungkin sikap ini bagus jika tujuannya biar pikiran tetap positif. Belum tentu beres dalam membaca situasi atau sensitif dengan kondisi.

Seperti juga setiap level, ujiannya juga bertambah bobotnya. Kali ini sepertinya cukup berat sehingga buat saya menelusuri ulang segala sesuatunya, dari niat…

Bagaimana Cara Menata Hati (Kembali)?

Nggak berapa lama lalu, Alhamdulillah saya merasa Allah sangat baik dengan saya. Alhamdulillah di satu fase, saya merasa hidup tanpa kekurangan. Saya bisa belanja hal-hal yang saya mau pada kadarnya. Bisa memberi lebih ke orang lain. Bahkan berpikiran mau mempekerjakan orang…

Di titik itu, kadang ketika duduk diam saya berpikir apakah kali ini ujian dalam hidup saya? Saya baca konten yang berisi, ‘kalau kamu bingung ujian hidupmu apa, mungkin kamulah ujiannya.’ Sepertinya di titik itu, konten itu benar.

Latih Kepekaan Sekitar

Ternyata kondisi hidup saya yang kala itu terasa berkelimpahan, mungkin merupakan ujian untuk orang lain. Mungkin saya terlalu naif atau ngga sensitif dalam hal-hal tertentu.

Meskipun saya ngga koleksi barang branded atau tiap hari jalan-jalan. Tapi nyatanya hal-hal yang saya anggap mudah ternyata merupakan perjuangan untuk orang lain. Dan saya tak sadar, mungkin dibalik pujian orang lain terselip rasa iri? 

Mungkin kekosongan respon juga bisa ada rasa ngga suka. Hal-hal yang saya ngga peka sebelumnya, kini saya berusaha menelaah lebih dalam dan kadang membuat saya overthinking. Kondisi berpikir terlalu jauh atau baper ini bisa jadi karena perubahan hormon di usia 40 tahun?

Yang jelas kali ini penyakit hati orang lain tak bisa saya abaikan, karena orang itu adalah orang-orang terdekat dan terhubung dengan saya. Bukan orang random yang saya ketemu sesekali. Bukan sosok yang sebenarnya ngga terlalu kenal saya. Dan bukan juga orang yang ngga berilmu.

Jadi cukup sulit untuk saya menangani masalah ini. Karena manusia, walau terlihat memiliki posisi terhormat tetap saja manusia. Yang mungkin punya titik lemah. Saya berusaha lebih peka dan membenahi diri. Ternyata seharusnya saya lebih menyadari kondisi orang lain.

merenung dan bercermin dalam hati (sumber foto: unsplash)

Muhasabah Diri Tentang Niat

Saya berusaha muhasabah diri, bahwa mungkin ada kalanya saya berlaku baik karena mencari validasi atau mengharap pujian. Nah akhirnya saya berusaha meluruskan hati.

Allah pun menegur dengan caranya, membuat saya harus mengikis perasaan tinggi hati dan arogan. Mungkin karena saya yang sedang tidak terima dengan perlakuan itu, otomatis jadi perhitungan dengan segala sesuatu. Ada fase marah dan membela diri. Namun tentu saja tak nyaman.

Ternyata yang membuat saya kecewa adalah niat yang telah berbelok. Dan juga ekspektasi pribadi yang ngga seharusnya. Beribadah dan berbuat baik seharusnya memang diniatkan mencari ridha-Nya dan menyembah-Nya, bukan yang lain-lain.

Ketika kita berharap yang berbeda, kita ngga akan kecewa. Toh bukan manusia yang kita harap validasinya.

Saran Allah Mengenai Orang yang Menyakiti Kita

Saran apa yang lebih baik dari ujian dibanding saran Yang Maha Kuasa? Kenapa Allah mengizinkan saya ‘bertemu’ masalah ini? Mungkin diantaranya menata dan membersihkan hati. 

Tapi juga belajar dari kasus Abu Bakar, dimana putrinya Aisyah pernah difitnah Mitsah, anak yang ia nafkahi sejak kecil. Abu Bakar sempat tidak mau menafkahi Mitsah kembali.

Allah bersabda: 

“Janganlah orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah, bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabat mereka, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, maka HENDAKLAH MEREKA MEMBERI MAAF dan AMPUNAN. Bukankah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22) 

Yang termasuk susah adalah memadamkan ego dan marah. Penyakit hati itu cuma memberikan racun ke badan. Ada pula nasehat untuk memaafkan, karena Yang Maha Kuasa saja memaafkan kesalahan-kesalahan lampau kita.

Kalau ngomongin ego, saya juga jadi ingat kisah Iblis yang tidak mau sujud ke Nabi Adam di surga. Dan kalau sudah ingat ini amit-amit, ngga mau deh kaya sosok itu.

****

Saya ngga berani bilang sudah khatam menata hati. Karena kenyataannya saya masih diuji untuk hal ini. Padahal saya ngga mau..karena mengganggu kedamaian.

Bismillah, semoga dengan menulis ini semakin bisa menjaga hati. Aamiin…

Leave a Reply