Categories: Homeschooling

#RamadanPrep: Rencana Kegiatan Anak

#Ramadan Prep: Rencana Kegiatan Anak – Untuk mengikuti Tantangan Blogging MGN Level Up 2025, saya putuskan untuk menulis mengenai persiapan menuju bulan Ramadan. Ini karena beraktivitas di bulan Ramadan butuh perhatian ekstra. Ekstra lebih karena keinginan bulan itu ibadah kita berjalan lancar. Karena ada landasan ini, ada kekhawatiran atau keresahan karena takutnya karena kurang persiapan malah terjadi sebaliknya. Nauzubillah min dzalik

Nah salah satu persiapan yang harus jadi perhatian saya adalah kegiatan atau aktivitas anak. Karena homeschooler beda dengan sekolah formal dimana ya benar-benar semua kegiatan dipegang orangtua.  

Saya menulis disini sebagai reminder dan biar jadi termotivasi aja. Daripada saya ngga konsisten sementara saya sudah menulis di tulisan ini. Nah ini dia rencana kegiatan anak yang terpikirkan di bulan Ramadan 2025 ini.

STEAM Project

Tahun lalu, anak saya mau diajak kelas sains ngabuburit online. Sayangnya karena masalah jadwal anak saya menolak ikutan lagi. Namun intinya sih dia suka praktek sains dan kebetulan kami sudah beberapa kali membuat project Science Technology Engineering Art and Mathematics (STEAM) sendiri. 

Mungkin bagi yang pernah baca tulisan homeschooling saya sebelumnya, saya mulai menerapkan belajar metode STEAM sejak 2024. Ini karena dalam 1 project bisa belajar banyak subjek, while menghubungkannya dengan dunia Islam. Insya Allah. 

Bukannya sudah ahli, kami menjalani sambil ikut belajar dan berproses. Selama ini sih metode STEAM tergolong paling cocok dengan kami. Karena akarnya dari minat anak dan dengan mempraktekkannya anak sekaligus belajar banyak ilmu (tentunya orangtua yang mendampingi juga ikut belajar). 

Saat ini si kecil sedang senang membuat permainan labirin dengan kardus. Masih menuju proses membuat dinding-dinding labirin. Dalam mendesain dia sangat suka dan banyak ide. Ternyata dalam pembuatannya butuh banyak praktek mengukur alias sangat berhubungan dengan matematika. 

Diskusi dan Membaca Ayat Qur’an

Beberapa waktu lalu saya menemukan akun berisi nasihat parenting islami di media sosial yang pas banget untuk saya (dan mungkin orangtua lain) baca. Kebetulan juga anakku ini tipe anak yang senang diajak obrol dan berdiskusi. Sayangnya saya tidak menyimpan konten tersebut jadi terlewat begitu saja. Tapi saya masih sangat ingat isi pesannya.

Konten dari akun itu mengatakan bahwa di bulan Ramadan, adalah salah untuk orangtua atau ibu untuk menunggu anak tidur baru bisa beribadah. Daripada menunggu anak tidur, sebaiknya kita mengajak anak beribadah bersama.

Nah moga-moga ketika kami berpuasa dan ngga ngantuk parah bisa membaca dan berdiskusi mengenai ayat-ayat Al Qur’an. Ini kedengarannya berat tapi sebenarnya ayat Qur’an itu luas sekali dan menyeluruh ke segala bidang.

Misalnya membahas kenapa langit biru atau kenapa manusia berbeda-beda penampilannya? Kenapa mulai puasa harus ketika sahur? Insya Allah semua ada penjelasannya di Al Qur’an. 

Mungkin titik menantangnya adalah dalam memilih materi pembahasannya. Saya harus peka dengan minat dan kesukaan anak. Ini biar dia engage dan tertarik dengan pembahasannya.

Independent Learning

Si kecil kini sudah bisa belajar mandiri bermodalkan menonton video online. Karena suka nonton akun yang isi kontennya trivia mengenai kejadian dunia, tiap hari dia suka cerita ke saya apa saja yang ia baru tahu dari konten-konten tersebut. 

Sebelumnya dia suka mencari tutorial sendiri mengenai program yang ia minati. Misalnya Roblox Studio, Flipaclip dan sebagainya. Kini ada lagi program lain yang ia sedang coba-coba. Melibatkan software atau game online termasuk cara belajar yang asyik dan bisa kita terapkan di masa kini. Parenting modern haruslah fluid atau fleksibel mengikuti zaman asal tetap pada jalurnya. 

Namun untuk belajar mandiri sebenarnya bagus untuk bersumber dari buku. Berupaya agar anak senang dengan koleksi buku yang ada di rumah itu idealnya. Satu buku yang saya percaya diri membelikan adalah mengenai Bumi karena ia sangat planet blue marble kita ini.

Belajar secara independen memungkinkan anak belajar tanpa harus selalu dituntun. Ia secara otomatis mencari jawaban dari keingintahuannya dan kemudian menerapkannya. 

Mengajak Anak ke Dapur

Wacana mengajak anak ke dapur sebenarnya adalah gambaran ideal saya akan aktivitas anak di bulan puasa. Namun saya punya low expectation akan wacana ini. Karena anak saya anak laki-laki yang wajarnya ngga tertarik ke dapur. Beberapa kali mengajak juga nggak begitu semangat sih. Kecuali dari menu yang ia benar-benar suka.

Wacana ini bukan untuk membuat anak seperti asisten rumah tangga dan lantas kita suruh-suruh seperti hired help. Tapi motivasinya agar anak punya skill dan pernah praktek saja ikut memasak.

Dalam prakteknya sih kadang malah saya yang kurang berlapang dada. Misalnya jam buka puasa sudah dekat dan persiapan masih nol. Jadinya saya cenderung ingin proses masak cepat. Kalau begini situasinya mungkin lebih baik malah tidak ajak anak ke dapur.

Homeschooling itu proses belajar untuk orangtua juga. Moga-moga karena kita punya niat ibadah jadinya lebih terbuka kalau anak bisa melakukan kesalahan atau lambat dalam bergerak. Mungkin saya bisa mengajak anak memasak pada menu sederhana dan bukan menu utamanya. Juga mengajaknya ke dapur bukan di waktu yang mepet.

Olahraga Ringan

Rencana saya sebenarnya tetap rutin olahraga sendiri di bulan puasa. Tentunya agar badan tetap sehat dan stamina terjaga. Mengajak anak olahraga di bulan puasa sepertinya lebih tricky dibanding mengajaknya ke dapur. Banyak saran yang saya baca bahwa untuk olahraga lebih baik di dekat jam berbuka puasa. Sementara dekat jam puasa biasanya kita lebih kekurangan cairan dibandingkan di jam-jam sebelumnya.

Tapi anak saya sejatinya suka wara-wiri dan susah diam kecuali saat baca dan melihat layar. Mungkin saya bisa alihkan ke olahraga khusus seperti yoga atau senam untuk anak-anak? Tak perlu lama juga sih menerapkannya. Bisa saja aktivitas olahraga ini cuma 15 sampai 20 menit saja.

Penutup

Boleh dibilang kegiatan anak saat Ramadan yang direncanakan ngga jauh beda dengan hari biasa. Kecuali ada kegiatan mengajak ke dapur dan Diskusi Qur’an. Kalau kuat, moga-moga kegiatan di atas bisa konsisten sampai 3 minggu Ramadan. 

Yang paling penting juga si kecil bisa berpuasa konsisten sampai akhir bulan. Balik lagi, semua ini baru rencana dan teori. Ya Allah, semoga dilancarkan rencana ini. Terima kasih sudah membaca! 

tulisandin

View Comments

  • Home schooling itu perlu energi yang besar, dan, karena itu, saya salut Teh Andien memilih jalur ini untuk pendidikan anak-anaknya. Persiapan dan pelaksanaannya tentu perlu dipikirkan baik-baik agar sesuai dengan kurikulum sekolah umum dan sejalan dengan pendidikan impian kita. Semoga sukses dan lancar selalu.

Recent Posts

YouTube Channel yang Sering Dikunjungi

YouTube Channel yang Sering Dikunjungi - Mendengarkan atau menonton YouTube (YT) sebenarnya bukan sesuatu yang…

3 weeks ago

When I Had to Face My Fear and Have One of the Biggest Blessings

What’s the thing you’re most scared to do? What would it take to get you…

2 months ago

Refleksi Homeschooling 2025

Refleksi Homeschooling 2025 - Setahunan 2025 saya cukup jarang menulis soal Homeschooling. Bukan apa-apa sih. Lebih…

2 months ago

Berlika-Liku, Kisah Single Mother dari Mesir yang Berusaha Bangkit Lagi

Berlika-Liku, Kisah Single Mother dari Mesir yang Berusaha Bangkit Lagi - Saya akui tahun 2025,…

4 months ago

Merenung dari Drama Mengenai Frenemy, Sebuah Pembelajaran

Merenung dari Drama Mengenai Frenemy, Sebuah Pembelajaran - Sejak bahas drakor Divorce Insurance (2025), saya…

6 months ago

Teori Black Cat & Golden Retriever dalam Film-film Romantis Terkenal

Black Cat & Golden Retriever Theory dalam Film-film Romantis Terkenal - Ternyata ada istilah baru…

6 months ago