Rumah Di Dekat Kebun

rumah di dekat kebun.jpg
ilustrasi rumah di dekat kebun - created by image bing creator

Rumah Di Dekat Kebun – Untuk tantangan blogging MGN bulan April yang bertema “Bumi” ini sebenarnya saya sudah terpikir beberapa ide menulis. Namun entah mengapa saya merasa lebih tertarik menuliskan pengalaman, dibandingkan rekomendasi bacaan dan pelajaran homeschooling apa saja yang bisa ajarkan anak agar menyayangi bumi. 

Wajar saja, meskipun saya peduli dan miris akan kondisi bumi, pengetahuan saya mengenai hal-hal yang berbau lingkungan tidak begitu mendalam. Saya berusaha memilah sampah organik dan anorganik, meminimalisir penggunaan plastik dan berusaha memakai plastik yang ramah lingkungan. 

Saya juga tidak ikut-ikutan orang-orang di kota yang dengan mudahnya membuang sampah ke kali. Kalau diberi kesempatan dan memudahkan, saya ingin menyumbang sampah plastik ke bank sampah. Tapi jujur, memang belum maksimal usaha-usaha saya ini.

Sebagai seorang Ibu, orangtua dan praktisi homeschooler yang otomatis juga seorang guru, saya merasa sudah kewajiban saya menanamkan awareness atau ke anak saya sendiri mengenai keadaan bumi.

Bumi tidak sedang baik-baik saja. Dan anak saya, yang sebenarnya salah satu ‘fans’ bumi (karena senang menggambar bumi dan berminat pada tata surya) sebenarnya mengenal keadaan bumi yang tidak sedang baik-baik saja dari lingkungan rumahnya sendiri. 

Pindah ke Rumah Dekat Kebun

Ketika si kecil masih toddler, kami pindah ke rumah yang sebelahnya ada tanah lebih tinggi dari tanah rumah yang kami tempati. Tanah itu berisi pepohonan yang cukup tinggi dan kebun juga semak-semak yang cukup lebat. Tanah pepohonan itu cukup rimbun sehingga kalau pagi kami bisa mendengar burung bersahutan dan suara angin gemerisik di antara pepohonan, yang dedaunannya beradu satu sama lain. 

Tanah ini mungkin tergolong ‘aneh’ karena dikelilingi daerah perumahan yang cukup padat. Malah suatu kali, saya pernah lihat ada yang berkemah di dalam hutan mini ini. 

Salah satu alasan kami bahkan pindah ke kota ini karena ingin si kecil menghirup udara yang lebih bersih. Alhamdulillah kami mendapatkannya disini.

Lokasi rumah ini tentu beda dengan rumah-rumah yang pernah kami tempati sebelumnya. Mereka berada di antara rumah-rumah yang padat dan agak berdempetan. 2 rumah pertama yang kami tempati ada di Ibukota, yang jam 6 pagi saja sudah mulai terasa panas. 

Kembali ke rumah di dekat kebun. Sejuk, itu yang saya rasakan kalau saya menjemur baju di samping rumah yang bersebelahan dengan tanah tinggi itu. Jam 12 siang saja walaupun terik tapi tetap terasa adem. Banyak dedaunan berjatuhan memang, yang harus saya sapu dan insya Allah menambah ladang pahala saya. Lokasi rumah yang adem dan dekat ‘hutan mini’ ini jadi keuntungan untuk kami yang tidak suka kebisingan dan keramaian. 

Ketika jaman covid pun, ketika orang-orang ketakutan keluar rumah karena takut dihinggapi virus, kami yakin berada dekat pepohonan ini bisa ‘menetralisir’ udara yang mungkin beracun. Ya, rumah di dekat kebun ini menyenangkan karena sedikit lebih dekat dengan alam. 

Oh ya, tanah rumah kami ini subur sekali. Ketika didiamkan saja, rumput-rumput liar dan tumbuhan seperti suplir dan bunga liar tumbuh dengan sendirinya. Orang yang dulu menempati rumah ini menanam tanaman salam yang sudah menjulang jadi pohon dan berbuah. 

gambar kiri ke kanan atas : dedaunan yang suka jatuh di samping rumah – tanaman yang tumbuh di sela-sela dinding bebatuan, gambar kiri ke kanan bawah : dedaunan yang suka tumbuh sendiri di tanah samping rumah, berbagai dedaunan yang dijadikan bahan pelajaran HS ke si kecil

Rumah Yang ‘Penuh Penghuni’

Namanya juga di dekat alam, kami tidak hanya berdekatan dengan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan juga semak-semak, tapi juga binatang-binatang di dalamnya. 

Ada nyamuk kebun yang besar? Sudah biasa. Sewaktu si kecil umur 2 tahun hingga 6 tahun saya sering mengoleskannya minyak telon anti nyamuk sebelum keluar rumah, walau kadang tetap saja bentol di daerah kepala dan kaki bisa ada. 

Awal kami pindah, loteng rasanya sering berisik karena keberadaan yang kami duga adalah rubah mengejar kucing. Atau mungkin ‘penghuni lainnya’, entahlah. Saya agak malas memikirkannya karena berusaha positive thinking

Awal pindah, samping rumah agak penuh karena ada bekas material untuk membuat atap. Ketika menjemur baju, saya ketemu dengan ular kobra mini berwarna hitam. Lucunya saya kabur ketakutan dan si ular juga kabur. Si ular ketemu lagi sama suami saya dan suami saya ‘melepasnya’ ke ‘hutan samping rumah’. Ngeri kalau kita menyakitinya, nanti si induk bisa mencari-cari kami. Namun saya masih tak yakin dalam hati apakah itu benar-benar ular atau ‘ada yang mengganggu saya’.

Suatu pagi, saya ketemu bangkai kelelawar ‘terkapar’ di atas rumput samping rumah. Memang ada kalanya, kelelawar suka melintas di teras kami. Ya cukup mengagetkan menemukan hewan itu karena taringnya terlihat. 

Kalau musim hujan, sering ditemukan ular di sekitar dan tak hanya di dekat rumah kami saja. Pernah juga sih, si kecil melihatnya dan menangis ketakutan. Kala itu saya nggak pernah melihatnya, mungkin perpaduan antara mata saya agak rabun dan saat itu saya rajin dzikir pagi-petang minta perlindungan.

Pernah juga ketemu kaki seribu, kelabang, kadal dan cacing tanah. Ya Allah, kalau dipikir-pikir diriku ‘tabah’ banget ketemu berbagai hewan di rumah ini. Kadang saya pernah juga melihat capung merah terbang diantara tumbuh-tumbuhan samping rumah, tapi saya selalu gagal memotretnya.

Kandasnya Si Hutan Mini

Kira-kira lewat tiga atau empat tahun setelah kami pertama tinggal di rumah itu, tiba-tiba ada berita bahwa tanah samping rumah akan dibuat perumahan. Dalam hati tentu saja saya menolak rencana itu. Tapi ternyata bagian keamanan dan pihak perumahan kami telah menerima ‘tanda terima’. Dan tak ada yang memprotes. Kami? Tentu ada kekhawatiran tersendiri. 

Efek dari rencana itu adalah dibabatnya si hutan mini, dari belakang rumah hingga samping rumah kami. Cuma beberapa pohon dan rumput tersisa di perbatasan tanah tinggi itu yang disisakan. Mendadak, rasanya rumah kami begitu terekspos akan matahari. Panas hawanya, tentu saja. 

Bukan pepohonan lagi yang terlihat di samping, melainkan gundukan tanah. Tak lama datanglah ekskavator yang menggali-gali tanah memulai pembangunan. Suara mesin-mesin mengangkut di malam hari kadang terdengar dan mengganggu. 

Akibat dari dibabatnya si hutan mini, semut-semut hitam menjadi lebih banyak mendatangi rumah kami. Menjajal meja dapur yang sering ditempatkan makanan dan juga dapur. Semut-semut itu tidak begitu besar, tapi sungguh susah disingkirkan. Tak bisa terbang ditiup tapi harus ditepis.

Suatu kali, ada banyak ulat bulu menghampiri di dapur dan masuk hingga ruang tamu. Saya belajar ‘ikhlas’ dan kalem ketika menemukan ulat bulu beberapa kali. Terutama di dekat kompor ketika memasak. Saya berusaha tenang karena saya tidak ingin si kecil meniru saya ketakutan kalau ketemu binatang itu. Gatal-gatal? Iya sempat terkena tapi tidak sampai parah. 

Kata teman, hal ini terjadi karena tidak ada lagi burung yang memakan mereka. Ya pantas saja, pepohonan sudah dibabat. Ulat-ulat bulu bingung mencari habitat kemana dan larinya ke rumah yang kami tempati. Alhamdulillah, fase ini terlewati. Ulat bulu juga tidak akan melepaskan bulunya kalau ia tidak merasa terancam. Pernah si kecil tak sengaja menginjak ulat bulu kecil dan ia tidak merasa gatal sama sekali. Beda ketika dulu ia sempat terkena ketika main dengan anak tetangga. 

Salah satu prakarya ide si kecil yang meniru tontonan Youtube

Belajar Dari Dibangunnya Perumahan Baru

Kini, tanah samping rumah sudah diisi dinding-dinding bata dari rumah yang menjulang tinggi. Dedaunan di samping rumah tidak lagi banyak berserakan seperti dulu, tapi ketika jam 10 siang saya sudah tidak betah jemur baju. Saya jadi menjemur baju lebih pagi yaitu kira-kira jam 7 dan jam 8 saja agar tidak kena panas terik matahari. 

Begitu juga dengan memasak di dapur. Saya sengaja masak pagi juga karena ketika siang dan cuaca terik, saya bisa memasak sampai basah keringatan. Saya bahkan menghindar mencuci piring siang bolong dan memilih cuci piring jam 3an sore ke atas. Maklum, dapur rumah itu memang tertutup dan tidak ada jendela terbuka. Dengan dibabatnya pepohonan dan semak di belakang rumah, atap dan dinding dapur jadi sangat terekspos matahari.

Si kecil jadi belajar dengan adanya perubahan lingkungan rumahnya ini. Bahwa manusia kerap memanfaatkan tanah demi ekonomi dan melupakan habitat hewan dan tumbuhan. Ketika saya jelaskan datangnya banyak semut dan ulat bulu itu karena mereka kehilangan tempat tinggal, si kecil melepaskan kekesalannya dan jadi bersimpati. Ia tak lagi bersungut-sungut dan mengomel ketika didatangi hewan-hewan itu.

Iya nak, itulah gambaran kecil sepenggal tanah yang suka dimanfaatkan manusia di bumi. Miris memang, tapi itu tugasmu agar bumi tidak plontos dan kekeringan.

Kadang-kadang masih ada suara burung menyahut di pohon di pagi jelang siang. Dan saya bersyukur masih mendengar suara burung di samping rumah, seperti dulu. Saya bertanya-tanya apa si burung bersyukur masih ada pohon untuk dihinggapi atau sedih karena kesepian?

Penutup

Terima kasih atas kenangan dengan rumah di dekat kebun yang kini sudah jadi rumah di dekat perumahan sebelah. Si kecil merasakan sedikit indahnya berada di dekat alam dan sedikit pahitnya ketika alam ‘direnggut’. Rumah itu kini sudah dirubuhkan dan dibangun rumah baru yang mungkin menyaingi tinggi rumah sebelahnya.

This Post Has 7 Comments

  1. Shanty Dewi Arifin

    Kasihan juga banyak hewan yang jadi kehilangan rumahnya ya. Kalau aku, jujur takut ketemu sama ular aja.

  2. Alfi

    Aduh, sedih banget kebunnya jadi hilang. Pembangunan begitu tidak diinformasikan ke masyarakat sekitar kah? Kan itu artinya mengubah lingkungan tempat tinggal ya? Bisa jadi kebun itu adalah alasan dipilihnya tempat tinggal kan ya?

  3. dewi laily purnamasari

    Miris memang ya teh Andina, perumahan dibangun untuk manusia tetapi pasti mengusir penghuni bumi lainnya. Sebagai arsitek yang pernah mengalami harus membangun perumahan dan apartemen kadang ada timbul rasa bersalah… Duh… Gara-gara bikin perumahan ini jadi deh kebun, sawah, atau daerah resapan hilang. Pernah juga kuburan dipindah (hhhmmm… ini agak horor sih akibatnya).
    Aku pernah tinggal di perumahan dengan fasum tanah lapangan bola yang masih ada rumput menghijau, masih ada tanah di sempadan sungai yang ditanami pohon pelindung, taman yang luas. Sekarang tinggal di tengah kota … Tanah satu meter persegi saja harganya bisa 10-15 juta, tak ada taman yang luas apalagi lapangan bola hiiikkksss…

  4. Riskawati Chandra

    Dulu saya juga pernah tinggal di rumah yang sebelahnya itu semak belukar kebun orang gak kerawat dibatasin pagar dinding. Kalau hujan deras, penghuninya banyak yg ngungsi ke rumah saya. 😆😆😆. Untungnya gak pernah kedatangan ular sih. Positifnya jd bisa jelasin ke anak macam2 hewan, yg pas di kota sebelumnya kita gak pernah temuin.

  5. Ririn

    Duh sedihnya..membayangkan sejuknya rumah dikelilingi pepohonan. Rumah saya mirip-mirip rumah teh Andina, banyak “penghuninya”. Pertama pindah disambut berbagai jenis ular, kelabang, dan yang bertahan sampai sekarang ada berbagai jenis katak dan laba-laba. Semoga suatu saat rumah-rumah baru itu pada nanam pohon ya teh..jadi paling nggak lumayan masih ada hijau-hijau diantara bangunan-bangunan

  6. Sistha

    Cerita bumi yang ada nuansa “dunia lainnya ha teh hehe..
    Awal bacanya udah ikut seneng dan mupeng teh tp ternyata itu masa lalu ya. Rasanya pasti pengen beli tanah sebelah utk dibiarkan menghutan.

    Btw ini yg bikin saya ga tertarik beli kavlingan tanah di area bukaan baru. Lagi banyak teh pembukaan lahan di kaltim sini. Itu area yg tadinya hutan.
    Sedih juga jalanan antarkota dulunya hijau pepohonan skrg banyak yg kalau ga gundul jadi lahan sawit. Serius saya jadi kesel sama pemerintah kalau lihat2 kayak gini.

  7. Sri+Nurilla

    Merinding ih baca “Rumah yang Penuh Penghuni” ehehe. Kirain asthral.
    Sudah jadi sebuah komunitas alam ya Andina. Lengkap saling bersinergi. Namun sayang komunitas itu tinggal masa lalu… Semoga suatu saat bisa menciptakan komunitas baru lagi ya Andina.

Leave a Reply