Nonton Film Doraemon di Bioskop, Momen Bonding Ibu Milenial dengan Anak – Beberapa bulan terakhir, jadwal saya dan keluarga cukup padat. Habis bulan Ramadan, kami sempat kena sakit. Kemudian masuk fase pindah rumah (dan mencari-cari rumah sebelumnya).
Pindah rumah butuh waktu untuk benar-benar settle. Lalu masuk bulan Juli, ada juga seminggu paksu sakit. Boleh dibilang, yah memang kadang manusia berencana tapi kejadiannya suka berbeda.
Saya ada di titik jenuuuh parah dengan rutinitas. Lalu saya teringat, tiap bulan Juli biasanya Doraemon merilis film baru. Sejak tahun 2023, kami rutin menonton film Nobita dan teman-temannya ini tiap tahun.
Hitung-hitung menghibur anak dan saya juga, Alhamdulillah kami berkesempatan nonton juga tahun ini. Sebelumnya, kita ngomongin film-film Doraemon yang sebelumnya:
Film-film Doraemon Sebelumnya & Alasan Menonton
Saya ngga nonton film Stand by Me (2014) di bioskop (nah baru ngeh filmnya rilis di tahun saya menikah, tentunya tahun sibuk untuk saya). Apalagi sekuelnya. Tapi dengan hadirnya film robot kucing buatan Fujiko F. Fujio ini versi 3D adalah bentuk nyata bahwa legacy Doraemon terus berjalan.
Kalau boleh jujur, saya ngga mungkin ngga akan milih Doraemon sebagai film untuk ditonton di bioskop. Mending nonton film dewasa kan.
Tapi momen nonton Doraemon sebenarnya adalah bentuk pengalaman si kecil di luar, karena sehari-hari sudah di rumah dan belajar pun homeschooling. Kami belum berkesempatan jalan-jalan outdoor seperti wisata ke Taman Safari.
Ternyata si kecil pun suka baca komik Doraemon. Kalau lagi sakit, episode-episode serial Doraemon jadi comfort watch dia. Boleh dibilang Doraemon adalah salah satu companion dia masa kecil.

Waktu Doraemon: Nobita’s Sky Utopia rilis tahun 2023, bukan cuma si kecil yang senang. Senang versi saya adalah si kecil bisa nonton film yang saya percaya kontennya aman untuk anak-anak.
Bahkan seringkali saya yang amazed karena di tengah dunia yang corrupted dengan nilai-nilai di luar batas seperti LGBT dan propaganda lainnya, nilai-nilai dan pesan film Doraemon masih terasa murni dan polos. Seperti halnya dunia anak-anak.
Di film Doraemon: Nobita’s Earth Symphony (2024), saya tersadar bahwa musik ada dimana-mana. Mungkin bukan musik sebutannya, tapi ritme. Seperti kicauan burung, suara mesin di jalanan dan lain-lain.
Tapi mungkin dari semua film Doraemon yang kita tonton sejak tahun 2023, saya paling suka pesan film Doraemon: Nobita’s Art World Tales (2025). Karena anak-anak kini menghadapi tantangan besar dengan masifnya informasi dan referensi dari internet, mereka bisa insecure dengan karya sendiri. Termasuk juga si kecil.
Padahal bukan masalah bagus atau tidak, gambar tangan kita adalah karakter kita dan itu sudah cukup bermakna. Di film tersebut, bukan gambar masterpiece yang akhirnya menyelamatkan dunia.
Mungkin film-film Doraemon tidak menampilkan visual yang hi-tech atau teranyar, tapi pesan-pesannya dan kehangatan nuansanya yang ngangenin. Ditambah melihat persahabatan Doraemon dan Nobita yang sekali-kali panas-dingin.
Momen Nonton Doraemon: New Nobita and The Castle of the Undersea Devil (2026)
Film Doraemon tahun 2026 ini rilis agak berbarengan dengan Minions and Monster dan Toy Story 5. Saya udah ngga berharap si kecil mau nonton Doraemon setelah dia menonton trailer Minions & Monster. Tapi ternyata ia sendiri yang berkomitmen tetap mau nonton Doraemon pada akhirnya.

Akhirnya siang di pertengahan bulan Juli, kami jadi nonton film Doraemon terbaru, Doraemon: New Nobita and The Castle of the Undersea Devil (2026) di CGV. Dan mungkin karena lagi pertengahan bulan dan hari non wiken, bioskop agak sepi. Satu bioskop berisi 5 orang, termasuk kami.
Kalau flashback tahun 2025, bioskop sedikit lebih penuh. Lucunya, banyak duo anak dan Ibu yang menonton seperti kami. Lebih banyak dengan anak lelaki dan 1 dengan anak perempuan yang duduk di belakang kami. Saya mengira-ngira mungkin ibu-ibu ini generasi milenial juga, sama seperti saya.
Kali ini, bioskop lumayan lengang. Seperti biasa, studio lain juga dipenuhi film horor lokal. Kami ‘mandiri’ masuk ke ruang aula, yang layarnya langsung menyala begitu kami berjalan masuk.

Boleh dibilang, film Doraemon kali ini alurnya sedikit lambat di 1 jam pertama. Baru kemudian menukik ke klimaks kira-kira di 40 menit terakhir. Mungkin film kali ini saya ngga begitu tertarik dengan temanya juga, jadi ngerasa ‘datar’ aja.
Saya juga ngga merasa kegentingan dari narasi. Biasanya ada krisis dari hubungan Doraemon dan Nobita. Nah kali ini ngga ada. Adanya dari karakter lainnya.
Tapi karakter ini sih biasanya ‘di belakang’ dan cuma jadi supporter aja sih. Cobalah bisa diperdalam lagi nih karakter ini dan tokoh tambahan dalam film.
Bagaimanapun pendapat saya, si kecil senang. Saya pun terhibur dengan menghabiskan waktu di bioskop dengan si kecil. Juga mengikuti petualangan Nobita, Doraemon dan 3 teman geng lainnya.
Saya cuma berharap Doraemon tetap rilis film tiap tahun. Seperti kata si kecil, ia senang Doraemon tetap ada di tengah tren animasi 3D dan Artificial Intelligence.
