Refleksi Homeschooling 2025 – Setahunan 2025 saya cukup jarang menulis soal Homeschooling. Bukan apa-apa sih. Lebih karena metode homeschooling kami mengalami transformasi.
Dari yang biasanya saya menjadwalkan kegiatan dan pembelajaran, menjadi mengikuti minat anak. Walau nggak selalu seperti itu, saya mengusahakan tetap belajar hal-hal yang cukup penting. Seperti belajar agama Islam.
Saya juga agak nggak PD membagikannya karena saya agak keteteran dengan kesibukan sebagai IRT dan pekerjaan lepas. Sebenarnya tahun lalu sudah juga demikian. Tapi tahun ini ada berbagai perubahan dari biasanya, sehingga merubah sedikit keseimbangan dan rutinitas.
Sebagai praktisi homeschooler, harus tetap terus belajar. Hal ini saya sadari ketika di satu titik saya merasa pembelajaran kami mengalami hal yang stagnan. Sehingga saya pun mengambil kelas mengenai minat dan belajar anak (saya masih dalam fase pertengahan belajar ketika menulis ini).
Overall, setahunan ini anak kami menyelesaikan beberapa hal. Saya hanya ingin membagikan berbagai pointer yang ingin saya kenang di tahun 2025.
STEAM Projects
Tahun lalu, saya belajar mengenai menerapkan belajar STEAM ke anak. Konsep ini cukup baik diterapkan dan apalagi membuat anak jadi sekaligus eksplorasi minatnya. Sayangnya ada kalanya mengalami kemandegan. Setelah saya belajar lagi mengenai mendampingi minat anak, hal ini merupakan hal yang lumrah.
Saya mencoba menganalisa kenapa anak beberapa kali maju dan mundur mengerjakan proyek ini. Pertama karena dari awal kemungkinan dia kurang berminat dengan subjek atau proyeknya. Kedua, minat dan mood anak yang suka berubah-rubah.
Alhamdulillah sih ada satu proyek yang terselesaikan. Yaitu proyek membuat replika Bumi dari bahan gabus dengan pewarnaan yang terbalik. Mungkin suatu saat akan saya terangkan lebih detil mengenai proyek ini.

Proyek ini sempat mandeg. Waktu itu anak tidak langsung menerangkan masalah atau kendala yang ia alami. Ternyata ia sempat hilang mood karena susah mencari warna yang pas dengan teknik mencampur cat sendiri. Hal ini saya akali dengan membeli warna khusus yang anak pilih sesuai bayangannya. Alhamdulillah, saya bersyukur berusaha mengenali kenapa si kecil tiba-tiba tidak mau melanjutkan dibandingkan menyerah dan bisa menemukan alasannya.
Nah kini anak masih berproses menyelesaikan proyek maze kardus. Mendampingi anak memang harus bersabar dan menyamakan pacing. Karena ia sempat lama tidak ingin melanjutkan sampai saya sudah mengira proyek ini akan terlupakan atau ditinggalkan. Bahkan saya sempat membuatkan project tracker agar menstimulus minatnya pada proyek ini (tapi strategi ini mungkin kurang kena ke targetnya). Sempat juga mengajaknya membuat background cerita permainan maze ini.
Ternyata ia sedang teralihkan oleh minat lain. Saat jenuh, ia kembali ingin melanjutkan proyek ini. Memang kita pun juga sesekali harus mengingatkan anak akan goal-nya tanpa memaksakannya.

Pengakuan si kecil, ia ingin membuat proyek maze ini karena saya pernah membuatkannya maze kardus sederhana ketika umurnya 3-4 tahun. Ia berpikir ia bisa membuat versi yang lebih seru. Terharu juga dan ini jadi bukti bahwa anak menyerap apa saja yang mereka alami/lihat/dengar.
Minggu lalu ia mengaku bangga dan takjub dengan perkembangan proyek ini. Tak menyangka maze kardus sudah sejauh ini pembuatannya. Suatu pengakuan yang bagai music to my ears, apalagi saya sedang nggak fit dan memaksakan diri mendampinginya belajar.
Apalagi ketika melihat galeri foto di handphone (melihat dokumentasi homeschooling) saat pertengahan tahun, maze yang dibuat masih diisi satu dinding. Kini, maze-nya sudah hampir semua dindingnya dibuat.
Template, Template, Template
Tahun 2025 sepertinya tahun saya membuat template atau worksheet yang lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Selain dari buat printables journaling, saya sering membuatkan anak template untuk diisi. Tujuannya agar membuat anak terpancing visual dan belajar.
Juga, bukan sama sekali karena kebanyakan waktu atau terlalu kreatif. Ini karena saya kurang puas dengan template yang ada di luar. Jadi daripada harus berkompromi atau pasrah dengan template atau worksheet yang ada, saya buat sendiri.

Kemudian, lebih mudah juga untuk jadi archive belajar. Karena setiap worksheet (online atau offline) saya minta anak isi. Segala dokumentasi HS insya Allah segera diorganisir.
Tentu ada special case seperti di bulan Ramadan 2025, anak saya mau membuat Ramadan tracker sendiri. Alhamdulillah, memang harus diingatkan untuk diisi. Tapi ini sebuah kemajuan.
Proyek Memasak
Sebuah progres besar lainnya tahun 2025, anak saya akhirnya mau diajak memasak (sebagai bahan belajar homeschooling). Tentunya dengan menu yang ia suka. Alhamdulillah, wishlist saya di Ramadan 2025 terbayar setelah bulan puasa lewat, hehe.
Awalnya, ia ada tugas membuat game Roblox dengan topik Sejarah Islam. Game itu berkembang sehingga ada item nugget. Ternyata…si kecil kangen makan nugget ayam! (Padahal tinggal bilang saja sih daripada muter-muter bikin nugget di dalam game)
Positifnya, karena saya jadi jarang memberinya nugget, dia jadi tergerak mau bikin nugget sendiri. Jadilah saya belanja daging ayam giling. Alhamdulillah, ia semangat juga menyerut keju, wortel dan berbagai aktivitas memasak lainnya. Endingnya dia bilang, “Nggak gampang ya bikinnya.”

Yak! Ngerti ya kenapa emaknya ngga pernah bikin nugget sendiri. Serunya, proyek-proyek memasak ini membuat saya juga ikut belajar. Karena kalau anak ngga minta, saya agak ogah buatnya. Alasannya karena ribet, hehehe.
Proyek memasak kedua adalah pizza. Dulu sih sewaktu masih usia 3-5 tahun, saya pernah membuatkan dan mengajaknya buat pizza dari roti pizza yang sudah jadi. Namun lama-lama ia ngga begitu suka. Saya rasa itu karena saya cuma pakai saus tomat botolan.
Jadilah proyek memasak kali ini, saya buat saus tomat sendiri. Inisiatif ini lebih kepada keinginan membuat proyek ini berhasil alias totalitas. Roti pizzanya pun kami coba buat sendiri. Saya menemukan resep pizza teflon jadi ngga perlu masak pakai oven.

Dalam membuat saus tomat homemade, si kecil membantu memotong-motong tomat dan mengeluarkan biji-bijinya saja. Kemudian kami blender dan tumis di wajan bersama saus tomat jadi. Kami nggak langsung buat rotinya, jadi menyicil buat sausnya dulu.
Dalam pembuatan roti, si kecil suka memegang tepung dan mengulennya. Di luar dugaan, ngga begitu susah juga sih membuatnya. Setelah didiamkan, kami memotongnya, menaruh topping-nya dan memanggangnya di atas teflon kecil. Ternyata rotinya cukup tebal! Sehingga makan ¼ pizzanya saja sudah cukup kenyang.
Setelah beberapa minggu lewat, si kecil bilang mau buat lagi karena ia suka rasa saus tomatnya. Masya Allah. Tapi yah kami belum sempat bikin lagi. Diam-diam saya padahal mau juga buat tanpa ia minta. Karena rasanya enak.
Field Trip Campur Liburan
Ketika kamu memutuskan melakukan homeschooling, setiap jalan-jalan keluar rumah bisa jadi bahan pelajaran. Alhamdulillah tahun 2025 ada kesempatan untuk berjalan-jalan ke Puncak dan Taman Safari Bogor. Tentunya pengalaman ini membuat si kecil berinteraksi dengan alam.

Ia sangat girang bermain air di sungai di dekat air terjun Cicurug. Ya mungkin dia rindu atau ingin ketemu alam langsung karena hidup di kota dengan kepadatan penduduk tinggi.
Kalau saya sih agak ogah karena malas ganti baju dan airnya sangat dingin.Iadoyan berlama-lama di air (namanya juga anak kecil ya), tapi nggak sampai basah sekujur badan sih. Cuma main air pakai kakinya. Oh ya, dia juga cukup antusias memotret air terjun. Ia membawa pulang sepasang pine cone kering yang sesekali ia berikan air dan terkagum karena bentuknya bisa berubah, padahal sudah terputus dari pohon lama.

Nah kalau di taman safari tentunya dia paling senang berinteraksi dengan hewan-hewan, memberi mereka makan dan memfoto mereka. Alhamdulillah di trip tahun 2025 ini kami lebih banyak melihat ragam binatang. Seperti burung-burung, reptil dan penguin. Ya tapi di taman safari juga ada wahana-wahana mainan seperti roller coaster, kereta gantung dan sebagainya.
Animasi & Game Design
Tahun 2025 si kecil lebih mengeksplorasi animasi dan game design. Berawal dari membuat animasi di game My Movie dan game lainnya yang memiliki fitur membuat game sendiri, si kecil senang membuat level sesuai kemauannya.
Alhamdulillah dulu saya sempat mendapat mata kuliah animasi saat kuliah. Bahkan mengambil topik animasi untuk skripsi. Jadi saya sangat gemas melihat si kecil lebih suka menganimasi di dalam game dibanding membuat dengan gambar tangan. Sayapun menurunkan ekspektasi saya dan menerima bahwa menggambar dan menganimasikan adalah dua hal yang berbeda.
Karena membuat objek bergerak dan menganimasikannya juga membutuhkan keterampilan tersendiri. Mungkin ini saatnya si kecil sedang belajar menggerakkan objek untuk dianimasikan dibandingkan menggambar.
Dibandingkan generasi saya dulu yang terlebih dulu kenalan dengan menggambar, era si kecil adalah era digital yang pesat. Sehingga berbeda eksplorasinya.
Gambar Bercerita Kucing
Si kecil telah memulai membuat seri bergambar dengan karakternya kucing di depan rumah. Memang seri ini sudah dimulai sejak tahun 2024. Awalnya saya cuma ingin mengembangkan daya imajinasinya.
Di luar dugaan ia membuat hingga seri ke 20. Ceritanya ia buat namun ia dibantu dengan elemen dan objek yang tersedia di Canva. Inisiatif dan imajinasinya cukup besar hingga ia sampai buat sampul-sampulnya dan logonya.

Seri bergambar ini belum berlanjut setelah seri ke 20an. Saya agak gemas sebenarnya karena ia pernah mengatakan akan buat sampai seri ke 25-30. Tapi belajar dari course mengenai minat anak, kita tidak bisa memaksa anak dan cukup memberikan support.
Ia berkata akan melanjutkan lagi. Dan bahkan mau membuat musim ke duanya, Masya Allah.
Eksperimen Sains (Lagi)
Akhir tahun, si kecil request praktek eksperimen sains lagi. Sepertinya karena jenuh tapi Alhamdulillah, nggak nyangka malah dia yang minta eksperimen sains. Nggak banyak eksperimen yang kita lakukan sebelum terpotong libur akhir tahun. Tapi saya bersyukur ia menganggap aktivitas ini menarik.
Liburan kemarin saya minta ia mencari eksperimen sains lain yang ia mau coba. Lumayan di usianya sekarang, ia sudah lebih bisa diajak mencari materi menurut minatnya sendiri.
Kesimpulan
Saya baru sadar, tahun 2025 si kecil sama sekali tidak mengikuti kursus (dan ternyata ini memang lebih baik, karena minat si kecil belum settle dan sangat mungkin berubah lagi). Kalau saya sih iya ikut kursus khusus mengenai minat anak (kira-kira di penghujung tahun). Considering kami benar-benar mandiri melakukan homeschooling ini, ditambah melakukan pekerjaan rumah dan hal-hal lainnya, sepertinya saya harus memberi diri sendiri reward (hihihi).
Pembelajaran saya di sisi HS tahun 2025 adalah dengan setia mendampingi anak menelusuri minat-minatnya. Tanpa memaksa dan mengatur. Nah, beberapa hari lalu, ia mengaku ingin menjadi animator. Ngomongnya waktu mau tidur jadi saya agak kriyep-kriyep, cuma dalam hati senang sih karena ada sebuah ‘arah’ yang bisa dijadikan acuan. Namun, jika suatu saat si kecil berubah pikiran, harus juga kami mengerti dan mendampingi dengan support sebaik-baiknya.
Terima kasih sudah membaca refleksi homeschooling 2025 ini. Silahkan jika memiliki respon dan komentar. Kami semua sedang belajar dan berkembang, jadi tentu ada kekurangan. Bagaimana perjalananmu menemani anak belajar?
