Efek ‘Sepele’ Menyapa di Bus Berbuah Manis – Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog September 2026 ini buat saya mikir panjang, karena topiknya “Keputusan Kecil/Sepele yang Mengubah Hidup”. Setelah merenung, ketemu beberapa hal yang mengubah hidup karena hal-hal yang saya lakukan in the moment.
Misalnya, beberapa kali saya sengaja memesan kopi online sebagai penawar rasa malas lantaran harus melakukan beberapa hal di rumah. Ternyata kurir ojek yang mengantar bawa keluarga di motornya, kepanasan dan anggota keluarganya terlihat canggung ketemu saya.
Atau ketika dikasih tip, bahagianya banget banget sambil berucap, “Makasih banyak Bu, semoga rejeki Ibu berlimpah” dengan muka bahagia yang kecapekan karena lama berkendara di jalan. Bikin saya malu dan mikir kalau saya kurang bersyukur.
Atau ketika saya diganggu rekan sekantor lawan jenis yang lebih tua. Orang itu menggoda saya terus padahal saya nggak gitu kenal dengan dia. Diganggunya sampai bikin kesal karena di depan orang banyak, berkali-kali. Setelan muka jutek saya otomatis keluar.
Tapi tiba-tiba dia minta maaf, juga di depan orang banyak. Seketika, luntur rasa marah dan kesal saya. Cuma karena dia minta maaf at the spot dan terlihat menyesal. Saya belajar disitu bahwa besar sekali efek maaf itu, jika memang niatnya tulus.
Beberapa kejadian di atas dan yang lainnya rasanya pendek kalau dijabarkan dalam satu tulisan blog. Akhirnya saya putuskan untuk menulis mengenai kisah saya memutuskan menyapa teman sekantor di bus sewaktu jalan pulang. Karena lumayan juga efeknya, agak panjang. Ini dia ceritanya:
Jam-jam pulang ketika seharian di kantor tetap saja melelahkan walau saya duduk bekerja. Apalagi waktu menunggu bus yang bisa lama dan kemacetan yang melanda di jalan pulang waktu itu, buat saya lelah dan cuma ingin fokus pulang. Saya sering cuma mendengarkan lagu di pemutar lagu dan duduk saja hingga bus sampai di perhentian Transjakarta dekat rumah.
Ada seorang ibu-ibu yang saya kenali bekerja di divisi sebelah divisi saya ada di busway yang sama. Awalnya sih saya ngga menyapa. Karena sebenarnya saya agak malas basa-basi, cuma ingin diam dan pulang. Tapi membayangkan betapa canggungnya nanti kalau saya ketemu dia di lorong dan tangga kantor, jika saya tidak menyapa. Apalagi dia senior dibanding saya yang tergolong pegawai baru beberapa tahun.
Saya memutuskan menyapa dan berkenalan. Alhamdulillah, ibu itu, sebut saya Ibu Y, ramah merespon saya. Kami pun mengobrol sepanjang perjalanan. Saya jadi tahu ia seorang ibu dengan 3 anak laki-laki dan sudah bekerja sejak awal kantor berdiri. Tanpa disangka, mengobrol dengannya cukup seru dan buat perjalanan pulang tidak terasa lama.
Sejak itu, saya beberapa kali ketemu Ibu Y. Di masjid kantor, di lorong dan kantin. Kami selalu saling senyum ketika bertemu.
Sebagai perbandingan, saya pernah juga ketemu orang kantor lain di bus. Tapi saya malas menyapa. Pertama, (salah sih) saya mengikuti mood saya yang lagi malas berbasa-basi. Kedua, (maaf) raut muka orang itu tidak ramah. Saya berkali-kali pernah ketemu dia, sama saja. Ternyata dia orang HRD, aduh. Pas ketemu dia di biliknya karena sebuah urusan administrasi, jadi canggung.
Jadi, belajar dari pengalaman ini; lebih baik senyum saja kalau ketemu orang yang dikenal, lebih aman di kemudian hari. Nah, kembali ke Ibu Y…
Saya punya beberapa pertemanan di kantor, umumnya teman-teman sepantaran umur. Tapi namanya juga hidup, perubahan itu biasa. Jadi, hadirlah fase dimana saya nggak cocok dengan teman-teman dan circle yang saya anggap ‘grup’ saya. Saya juga jadi malas ngumpul bersama dan hadir di momen-momen ada mantan circle. Termasuk teman yang sudah ngga dekat dengan saya lagi itu.
Saat itu sih saya agak bingung kenapa saya dijauhi. Karena saya pikir saat itu mereka tidak suka pilihan personal saya (ngga ada hubungan dengan kerjaan). Mungkin memang waktu itu saya sedang dijaga dan dijauhkan dari orang-orang yang tidak akan ada di masa depan saya kemudian. Agak worry juga waktu itu sih, karena saya ngga pernah benar-benar sendirian/tanpa teman selama hampir 10 tahun di kantor itu.
Saya lupa awalnya dari mana. Yang jelas, Ibu Y jadi dekat dengan saya. Sepertinya kami bertemu tak sengaja di masjid. Lalu kami jadi suka makan siang bersama, kadang bersama rekan-rekan sedivisinya juga. Saya suka mampir ke divisi Ibu Y karena malas ada di ruangan saya. Saking seringnya saya suka main ke divisi Ibu Y, sampai sempat diajak juga ke outing divisi itu. Tapi saya risih mau ikutan, karena bukan benar-benar dari divisi mereka.
Karena Ibu Y lebih tua dan tentunya lebih banyak ‘makan asam garam’ kehidupan, ia juga jadi tempat saya curhat. Ia suka bijak memberikan masukan dan melihat dari pengalamannya sendiri. Sama sekali nggak pernah Ibu Y punya penyakit hati dan negatif pada saya (dimana teman-teman seumuran atau beda umur sedikit bisa saja demikian).
Saya juga suka dapat insight menjadi istri dan menjadi ibu dari Ibu Y. Karena melihat habit dia dalam keseharian dan membersamai keluarganya. Saya melihat semangatnya mengurus anak walau harus mengantar sekolah jauh dari kantor.
Saat itu saya bersyukur banget ada Ibu Y. Bayangkan kalau saya nggak menyempatkan menyapanya di bus waktu itu? Mungkin sih saya akan makin ngga betah di kantor dan entah apa lagi yang terjadi.
Waktu itu saya juga sempat ‘jauh’ dengan Ibu kandung. Benar-benar masa itu trial bagi saya karena di penghujung fase hidup single. Jadi Ibu Y bisa jadi sebagai sosok keibuan di fase transisi saya waktu itu. Transisi saya yang harus melepas status pegawai dan akhirnya menikah.
Saya hampir ngga pernah bertemu Ibu Y selepas berhenti ngantor. Kami datang di nikahan teman yang ada di divisi Ibu Y. Pernah juga ketemu sekali setelah menikah. Beberapa kali Ibu Y mengajak kumpul di acara mantan karyawan, tapi saya beda generasi dari generasi pegawai Ibu Y.
Kantor juga pindah lokasi ke bagian Jakarta ujung, yang lumayan effort-nya kalau ke sana. Sepertinya Ibu Y juga bertanya kenapa saya ngga main aja ke kantor baru. Tapi saya toh sudah bukan karyawan situ lagi. Agak malas juga karena bisa ketemu circle lama itu. Saya pun move on karena fokus dengan kehidupan baru dan anak yang baru lahir.
Saya belum berkesempatan bertemu lagi dengan Ibu Y setelahnya. Hanya melihat kabar Ibu Y di feed media sosial. Ia kini sudah pensiun dan banyak menghabiskan waktu olahraga senam dan membersamai anak-anaknya.
Mungkin dari tulisan ini, saya cuma mau bilang terima kasih pada Ibu Y, for being my friend di masa sulit. Di titik sulit itu saya cuma bergantung sama Allah dan Alhamdulillah Allah ‘memberi’ saya teman yang tulus. Semoga Allah membalas ketulusan dan kebaikan Ibu Y.
Begitulah kisah keputusan ‘sepele’ saya menyapa di bus yang akhirnya membuat saya mendapat teman di saat sulit. Ternyata being friendly dengan tulus itu terbayar. Apa kamu pernah bertemu teman dekat tanpa sengaja? Apa ceritamu?
I watched *Kim Ji-yeong, Born 1982* before reading the novel, thinking it would be an…
During my second year of college, one of my classes gave an assignment to write…
Menonton film Doraemon tiap tahun bisa jadi momen bonding Ibu generasi milenial dengan anak. Seperti…
If you could erase one movie from your memory and watch it again for the…
Banyak memori ke taman hiburan Dunia Fantasi ketika masih muda, tapi tidak menganggap jalan ke…
Perjalanan belajar menata hati di usia dewasa mengajarkan pentingnya meluruskan niat, menjaga keikhlasan, dan lebih…