cover komik topeng kaca - sumber: wikipedia
Topeng Kaca, Buku Berpengaruh Saat Remaja – Tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari 2023 ini sesuatu banget. Khususnya buat saya yang baru saja bersemangat lagi membaca buku setelah sekian lama. Tentu saja topik Buku Yang Berpengaruh buat saya berpikir berkali-kali, apa yang harus saya tulis.
Buku terbaik yang saya baca di tahun 2022 adalah buku parenting. Tapi saya sudah mengulasnya di satu sesi sharing. Entahlah apa buku-buku baru yang rencananya saya akan baca bakal meng-influence saya atau apa saya punya cukup waktu menyelesaikannya sebelum periode tantangan blogging berakhir.
Akhirnya, pikiran saya berkelana ke masa saya (lebih) muda dimana otak saya masih jernih dan (ehem) lugu dengan dunia ini. Setelah buku-buku kisah nabi yang diberikan almarhum Bapak saya dan komik-komik Ghosbusters, saya membaca banyak komik yang dirilis di tahun 80an dan tahun 90an seperti Candy Candy dan Doraemon, juga Miss Modern.
Meski komik Doraemon juga memiliki banyak jilid dan seri, kisah Nobita kurang begitu melekat seperti komik Topeng Kaca (Garasu No Kamen). Saya mulai membaca komik Topeng Kaca sewaktu kira-kira kelas 5 SD. Karena sarat drama, bumbu romansa dan konflik, membuat banyak orang kepincut komik ini.
Saya bersimpati dengan kisah Maya Kitajima, gadis ‘biasa-biasa saja’ yang sederhana tapi ketika menjiwai peran bisa lupa dirinya sendiri dan sekitar. Bahkan aktris cantik seperti Ayumi Himekawa, saingannya bisa insecure melihat bakat Maya. Padahal Ayumi aktris sejak anak-anak dan dengan Ibu aktris dan ayahnya sutradara.
Maya benar-benar tidak punya background artis dan hanya berbekal main teater. Maya juga punya secret admirer, seseorang berpengaruh di dunia drama dan media. Seorang manajer ganteng yang usianya dua kali lipat Maya, yang selalu memberikannya support dengan simbol buket Mawar Jingga (kemudian sosoknya dinamakan Mawar Jingga oleh Maya).
Topeng Kaca sudah diadaptasi jadi sinetron (karena sebenarnya kisah romansanya lama-lama mirip sinetron) dan serial. Ada banyak sekali versi fan fiction-nya, mungkin karena belum juga selesai kisahnya.
Dengan 44 volume dan memiliki beberapa seri, Topeng Kaca ‘menemani’ saya secara ‘resmi’ hingga saya kerja kantoran. Terakhir buku komik fisik yang saya baca itu kisahnya belum selesai.
Di periode saya kuliah, saya membaca kelanjutannya versi digital di sebuah forum. Namun saya ragu versi ini asli dari si kreatornya. Entah saya yang terputus bacanya karena itu masa saya harus ke warnet demi mengakses internet. Sejujurnya gemas sekali karena serial komik ini belum juga habis.
Apa pengaruh komik Topeng Kaca ke saya? Ini beberapa hikmah yang saya dapat:
Membaca sedikit strip komiknya demi mencari bahan tulisan ini, saya tersadar bahwa komik ini cukup dramatis dalam penceritaan. Jenis cerita yang membuat kita yang baca ‘garuk-garuk dinding’ karena gemas dengan ceritanya.
Sosok Maya mungkin begitu total dalam seni peran karena di satu titik dia tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu sudah meninggal dan tidak ada saudara. Orang-orang terdekatnya cuma teman-teman teaternya dan sosok Ibu mungkin didapat dari Guru aktingnya, Ibu Mayuko. Ibu Mayuko pun karakternya keras, yang mungkin pas untuk karakter Maya yang ‘lunak’ dan tak percaya diri. Maya juga jadi ‘bergantung’ pada Mawar Jingga karena satu-satunya yang memberikan support padanya.
Sehingga Maya jadi ‘menuhankan’ seni peran dan perjalanannya sebagai aktris. Mungkin juga dia tidak punya ‘pegangan’ lain selain mimpinya.
Saya sendiri walau memang berpikir passion itu penting, di satu titik cukup tahu bahwa menuhankan passion akan membuat batin lelah. Mungkin at some point, Maya juga akan lelah dengan mimpinya dan ingin settle down berkeluarga.
Kalau boleh jujur, saya capek juga baca perjuangan Maya ‘mendaki’ perjalanannya sebagai aktris dan terlebih kisah kasihnya yang susah banget kesampaian. Mungkin Suzue Miuchi lebih-lebih lagi?
Karena hingga kini belum juga berakhir saya mau coba menebak ending komik Topeng Kaca. Karena mungkin di lubuk hati sebenarnya saya juga butuh closure untuk kisah Maya Kitajima ini.
Saya membayangkan Maya sudah berumur 40-50 tahunan dan karirnya sudah sekelas Meryl Streep. Bahkan ia sudah jadi acting coach. Namun tidak ada yang tahu, dibalik kesibukannya dia ‘beristirahat’ di mansion di ujung kota/pinggiran yang jauh dari hiruk-pikuk juga media. Disitulah dia bercengkrama dengan suaminya, si Mawar Jingga.
Kemungkinan Maya tidak bisa punya anak/sudah berumur untuk memikirkan punya anak dengan suami. Namun kebersamaan mereka sudah cukup. Mungkin juga mereka mengadopsi anak bersama.
Tidak ada yang tahu hubungan mereka kecuali mungkin orang terdekat seperti Ayumi dan Ibu Mayuko si guru akting. Juga Bapak angkat Mawar Jingga (yang tahu segalanya karena ia seorang yang sangat berkuasa). Walaupun tahu hubungan ini ia membiarkan karena deep down dia merasa kalau ia putuskan hubungan mereka, hubungannya dengan si anak angkat akan rusak selamanya. At the same time, sosoknya yang tua dan lemah tak berdaya lagi karena si anak angkatlah yang kini berkuasa.
Mungkin ada jurnalis atau media yang tahu hubungan mereka, tapi karena kekuasaan Mawar Jingga sebagai bos media sehingga setiap ada aksi jurnalis yang ingin meliput berakhir gagal. Atau karirnya terhenti.
Catatan : Waktu menulis ini saya nggak tahu ada versi Komik khusus tentang hubungan mereka. Tapi sepertinya serial inipun belum tamat (?)
Begitulah tulisan saya mengenai komik Glass Mask ini. Menarik juga mengingat ulang kisah Maya ini. Apakah ada yang juga ‘ditemani’ Topeng Kaca seperti saya?
What’s the thing you’re most scared to do? What would it take to get you…
Refleksi Homeschooling 2025 - Setahunan 2025 saya cukup jarang menulis soal Homeschooling. Bukan apa-apa sih. Lebih…
Berlika-Liku, Kisah Single Mother dari Mesir yang Berusaha Bangkit Lagi - Saya akui tahun 2025,…
Merenung dari Drama Mengenai Frenemy, Sebuah Pembelajaran - Sejak bahas drakor Divorce Insurance (2025), saya…
Black Cat & Golden Retriever Theory dalam Film-film Romantis Terkenal - Ternyata ada istilah baru…
Dilema Tas Branded - Sore itu Rara sibuk mendampingi si kecil ikut kelas online. Mayang…
View Comments
inget judul ini dan lupa ceritanya. sampe 44 volume ya?
Saya baca komik ini ketika tinggal di Asrama Gelap Nyawang, modal minjem dari teman yang harus sabar-sabar nunggu giliran baca karena komiknya beredar dari tangan ke tangan. Satu pelajaran lain dari komik Topeng Kaca 😅
waaahhh … ada ya teh Andina komik ini? aku gak tau dan anak-anak juga gak baca serialnya.
poin yang disebutkan tentang menuhankan passion aku setuju itu: memang akan lelah kalau kita -terlalu pada sesuatu bahkan banyak ya yang sampai depresi juga.
salam semangat
Ini komik di eranya Andin ini. Hehehe, saya gak tahu so komik ini. Gak pernah dengar juga rumor, gosip, atau iklan-iklannya…
Dulu saya cuman denger-denger saja tentang komik “Topeng Kaca” ini, tapi belum pernah baca. Mungkin karena waktu itu kota saya tinggal gak ada Gramedia dan Gunung Agung yang selalu menyediakan komik Elex Media Komputindo lengkap ahahaha.
Jadinya dulu baca komik Elex yang tersedia saja, yang selain “Topeng Kaca”.
Tapi, beneran belum ada ending-nya nih Andina? Panjang amat ya.
Rasanya waktu kuliah kaya pernah baca komik ini. Tapi nggak ngikutin lagi ceritanya. Ternyata sampai sekarang memang masih belum selesai juga ya. Itu berarti seumuran sama aku. Luar biasa juga ya komik ini.