Review How to Make Millions Before Grandma Dies (2024) – Rasanya saya di umur jelang kepala 4 dan di kepala 4 lebih memilih kisah dengan karakter lebih tua. Mungkin karena kebanyakan cerita dengan karakter usia muda baik di buku atau film sudah ketebak arahnya. Tentunya kisah dengan range umur mirip lebih relate dengan kita sendiri.
Membahas tradisi keluarga di Asia menurut saya menarik. Karena ngga seperti di Barat yang lebih easy-going, tradisi keluarga di Asia jauh lebih kaku dan parent-centered. Seperti juga di film How to Make Millions Before Grandma Dies (2024) yang konfliknya berpusat di keluarga dan warisan, jadi hal yang menarik.
Begini jalan cerita film Thailand tersebut:
Melihat saudaranya, Mui (Tontawan Tantivejakul) mendapatkan warisan rumah karena merawat kakeknya sebelum meninggal, M (Billkin Putthipong) yang seorang struggling gamer-vlogger memutuskan untuk ‘alih haluan’ mau mengurus neneknya yang sudah lansia dan didiagnosa kanker. Padahal sebelumnya M tidak menunjukkan ketertarikan pada neneknya maupun acara keluarga.
Awalnya menolak, tapi nenek M yang dipanggil Ama (Usha Seamkhum) tidak bisa mencegah M pindah ke rumahnya dan membantu kesehariannya. M jadi melihat lebih jelas karakter anak-anak Ama, Paman-pamannya termasuk Ibunya yang seorang single-mother.
Mui yang mengetahui motif sesungguhnya M membantu Ama memberikan ‘kisi-kisi’. Agar M lebih menunjukkan ketulusan dan perhatian pada Ama. Tidak sekedar hadir fisik dan membantu tapi juga berinisiatif.
Tinggal bersama Ama, M mulai menyadari keegoisan Paman-pamannya pada Ama. Mulai dari kecenderungan paman yang satu lebih mengikuti keinginan istri dan paman lainnya yang terlibat banyak utang sering menyusahkan Ama.
Namun lama-kelamaan Ama mengetahui alasan M tiba-tiba mau mengurusnya setelah kedatangan seseorang yang mau membeli rumahnya. Di sisi lain M mulai protektif dan lebih menyayangi Ama dari sebelumnya.
Menonton film ini sesungguhnya sangat berkenaan dengan kita yang memiliki kultur orang Asia. Seperti kebiasaan mengunjungi makam, acara makan-makan tiap minggu di rumah orangtua, ritual agama masing-masing sampai masalah harta warisan.
Di film ini juga terlihat anak kesayangan belum tentu anak yang paling berdedikasi. Betapa kita sebagai anak kadang nggak tahu diri dan pamrih pada orangtua. Padahal orangtua sudah susah payah membesarkan kita. Namun lagi-lagi sosok Ama yang tua renta cuma bisa pasrah dan mendiamkan kelakuan durhaka anak-anaknya.
Sesungguhnya sosok yang paling berlapang dada dan penuh kasih sayang adalah Ama, meskipun ia lebih banyak diam. Tapi tindakannya yang menyiratkan betapa besar hati seorang Ibu. Disandingkan dengan M yang masih muda dan emosional, tentu saja Ama jadi terlihat bagai malaikat.
Dari film ini dan film lainnya seperti film Budi Pekerti, saya ngga habis pikir kok anak-anak di film ini rata-rata begitu material-minded. Siapakah yang salah disini? Orang tuakah yang menuntut mereka berpendidikan tinggi dan cari kerja? Sekolah atau lingkungan yang semua serba tertuju pada uang?
Ada kekhawatiran dari diri saya untuk mengasuh anak yang mentalnya juga sama. Naudzubillah min Dzalik.
Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari film ini. Diantaranya pola pengasuhan dan bagaimana menyayangi anak. Sebagai anak tentunya juga harus peka dengan perasaan dan kondisi orangtua. Salah-salah, kita bisa menyesal dan tidak mampu lagi make up for our mistakes.
Saya suka bagaimana film ini memperlihatkan karakter dari yang muda hingga yang tua. Tanpa terlalu dibumbui atau didramatisir. It is just what it is. Dan sangat relatable dengan keluarga Asia kebanyakan.
Seperti film The Fighter, keluarga Ama didominasi anak laki-laki. Namun kulturnya berbeda karena pola pengasuhan di Barat jauh lebih bebas. Dan di keluarga Ama sangat menghormati posisi orangtua.
Film How To Make A Million Before Grandma Dies adalah salah satu film rekomendasi saya yang diluncurkan tahun 2024. Khususnya bagi kamu yang memiliki kultur orang Asia di keluarga, patut nonton. Insya Allah mendapatkan hikmah dalam memiliki hubungan dengan orangtua. Di dunia yang sangat berorientasi pada uang, kita perlu disadarkan bahwa ada hal-hal yang nggak bisa didapat dengan materi.
Ada pula serial yang memperlihatkan perlakuan anak ke orangtua yang sudah lanjut usia yang bernama Dear My Friends (2017). Serial ini juga jadi catatan sendiri karena menceritakan kehidupan usia lanjut.
Alhamdulillah akhirnya menulis ulasan film juga setelah sekian lama. Selain dari menulis mengenai berbagai hal yang menarik perhatian seperti blog Mbak Dhenok Hastuti, blog ini juga berisi bahasan mengenai homeschooling dan jalan-jalan.
Bagaimana menurutmu mengenai film ini? Atau masalah warisan dalam keluarga? Share yuk pendapatmu.
YouTube Channel yang Sering Dikunjungi - Mendengarkan atau menonton YouTube (YT) sebenarnya bukan sesuatu yang…
What’s the thing you’re most scared to do? What would it take to get you…
Refleksi Homeschooling 2025 - Setahunan 2025 saya cukup jarang menulis soal Homeschooling. Bukan apa-apa sih. Lebih…
Berlika-Liku, Kisah Single Mother dari Mesir yang Berusaha Bangkit Lagi - Saya akui tahun 2025,…
Merenung dari Drama Mengenai Frenemy, Sebuah Pembelajaran - Sejak bahas drakor Divorce Insurance (2025), saya…
Black Cat & Golden Retriever Theory dalam Film-film Romantis Terkenal - Ternyata ada istilah baru…