Review Serial First Love, Beef, That ’90s Show dan Gilmore Girls

gilmore-girls-series.jpg

Review Serial First Love, Beef, That ’90s Show dan Gilmore Girls – Ternyata mengurus 3 blog tidak mudah (ya sudah tentu). Sesungguhnya 1 saja bisa menyita waktu. Karena awal tahun ini saya putuskan membuat blog khusus untuk lebih menyemangati diri agar hidup sehat, jadinya saya lebih jarang update ke sini. Padahal blog ini sebenarnya ingin diisi oleh tulisan yang random dan untuk berekspresi juga.

Saya berpikir lama apa yang harus saya tulis. Termasuk tadinya mau fokus review serial yang nostalgia seperti Gilmore Girls dan That ‘90s Show, tapi kok ngga sreg. Akhirnya diputuskan untuk menulis serial yang sudah saya tonton dalam beberapa bulan terakhir. Ternyata cukup banyak sih. Mungkin ya akan saya bedakan dalam beberapa tulisan agar tidak kepanjangan. Ada beberapa yang saya putuskan untuk tidak tulis juga, karena kok ngga mood menuliskannya.

Here it is, beberapa serial yang saya tonton selama beberapa bulan terakhir dari Netflix dan sedikit ulasannya:

First Love (2022)

serial first love di Netflix

Awalnya sih saya ngga begitu notice selain dari ingat kembali dengan tembang yang booming, First Love-nya Utada Hikaru. FYI saya ngga begitu suka mengulang lagu itu setelah pertama kali dengar, karena begitu dramatis lagunya (exhausting to hear).

Yang saya ingat ketika selesai nonton, saya ingin tepuk tangan sama penyunting gambarnya dan konseptor jalan cerita serial ini. Karena pasti ngga mudah menjahit-jahit dan memotong-motong video maju dan mundur untuk beberapa episode. Mungkin si kreator tahu bahwa kalau digelundungin aja ceritanya, bakalan sangat membosankan dan membuat penonton yang ga sabaran (seperti saya) kabur nonton. 

Kelam, polos ketika masanya, pilu dan dramatis juga realistis. Mungkin itulah 1 kalimat yang bisa menggambarkan serial ini. Sayangnya memang aktris dan aktor masa remaja ngga begitu mirip dengan versi dewasanya. Saya suka melihat versi pasangan remaja bersama karena terlihat lepas dan ceria. Mungkin karena sisa serialnya terasa begitu ‘lesu’?

Serial First Love memang terinspirasi lagu hits pada masanya dan bisa menambah koleksi tontonan kita yang mungkin butuh nonton kisah cinta ‘berat’. Saya pun jadi teringat masa kecil nonton serial Jepang seperti Oshin dan lainnya, bikin saya sejujurnya ‘males’ nonton lama-lama karena terasa berat dan penuh konflik dalam batin (si karakter aktor).

Romantis kah First Love? Yaa, menurut saya si lelaki kurang fight ke hubungan mereka. There, I said it!

That ‘90s Show (2022)

Ingin mengenang serial That ‘70s Show adalah salah satu alasan saya mengintip serial ini. Secara garis besar, serial ini bisa mengobati rindu kita pada geng Kelso dkk. 

Tapi kemunculan si geng cuma sedikit dan lebih ke generasi berikutnya (yang ngga bisa menyamai ‘kekuatan’ cast originalnya, meskipun mirip, khususnya Leia). Masih senang sih bisa lihat Red dan Kitty setiap episode, tapi tetap saja mereka bukanlah bintang-bintang utamanya. 

Ya, serial ini memang suka dengan gamblang memperlihatkan kebandelan remaja dengan caranya sendiri. Pantas saja dulu stop tayang di TV Nasional ya.. 

Beef (2023)

serial Beef di Netflix

Kisah orang-orang Korea yang hidup di Barat dengan cerita struggling hidupnya sendiri. ‘Cuma’ berawal dari klakson yang menyulut kemarahan memulai segalanya. Pesan besarnya; kalau emosi jangan diturutin. 

Bingung bagaimana menyimpulkan kesan Beef untuk saya. Karena rasanya saya ngga pernah lihat serial macam Beef, yang gutsy (berani), blak-blakan dan kontroversial dengan nilai moral sendiri. Karakter root Asia khususnya Korea juga masih ada, walaupun lokasi dan bahasanya Amerika. 

Saya cuma terkesan bahwa karakter-karakternya terlihat nyata dan punya kedalaman, seperti Danny dan Amy. Ternyata si pembuat memang melibatkan aktor-aktornya dalam skrip dan menanyakan pendapat mereka tentang perkembangan cerita. Tentunya ini bukan serial untuk anak-anak karena banyak ucapan kasar dan kadang adegan yang kontroversial.

Satu hal yang buat saya tertawa geli adalah ketika Amy dan Danny dalam kesulitan bersama dan terpaksa harus makan buah yang mereka ngga kenali. Ketika Danny mempertanyakan skill Amy yang mengaku ahli tanaman (kondang pula), Amy jawab dengan marah, “How do I know? I just google stuff and pretend I know sh*t.” (kira-kira begitu) Lucu dan mirisnya, ini bagai sindiran untuk generasi kita masa kini. 

Serial ini mungkin terlalu kontroversial untuk beberapa orang. Tapi cukup buat saya ingin tahu ending-nya seperti apa. Ujung ceritanya cukup rapih untuk memberikan opsi kepada penonton cerita apa yang mereka mau. 

Gilmore Girls Season 3 (2022) – A Year In The Life (2016)

Sebenarnya saya sudah nonton serial ini. Dan saya nonton sejak episode pertama di TV. Namun waktu masuk kuliah, saya stop nonton karena pindah kuliah dan di kos ngga ada TV. Akhirnya pasrah deh nontonnya lompat langsung season 5 kalo ngga salah. 

Jadinya saya menonton untuk lebih mengerti dan sedikit nostalgia (yang kebablasan) sampai nonton A Year In The Life, serial perpanjangan dari serial aslinya yang khusus diproduksi Netflix. Menyenangkan bisa kembali ke kehidupan Lorelai, Rory dan Stars Hollow. Tapi tetap saja saya ngga sreg dengan karakter Logan dan masih team Jess (walau Jess adalah karakter yang pundungan dan troubled). 

Ketika masuk A Year In The Life, sepertinya kreator berusaha keras untuk tetap up-to-date dengan memasukkan tren seperti Konmari dan film Wild (jangan-jangan sekalian promo juga sih), juga sedikit LGBT (sayangnya). Padahal saya sih memang sudah suka dengan serial ini tanpa embel-embel itu. Agak bingung bagaimana bisa si girl next door/gadis rumahan macam Rory bisa hidup nomaden sebagai jurnalis (agak berlebihan menurut saya).

Saya sempat mikir udah ngga akan suka serial GG lagi (karena menilai pilihan-pilihan Lorelai salah), tapi tetap saja suka koo akhirnya. 

Penutup

Menyenangkan untuk bisa spill pendapat kita akan tontonan yang kita suka ya. Just so you know, saya review serial disini bukan berarti saya merekomendasikan. Tetap saja segala tontonan kembali ke pemirsa apakah cocok atau tidak.

Apa kamu sudah nonton serial-serial ini? Bagaimana pendapatmu?

This Post Has 2 Comments

  1. Aitiy

    Wah teh Andina, aku penasaran nih dengan serial Beef. Pernah lihat ada bbrp teman yg share di storynya, tapi baru lihat reviewnya di blog teh Andina ini hehe.. ok deh masuk ke daftar wishlist tontonan 😀 nuhun teh reviewnya..

Leave a Reply