Review The Menu, Wonderful Story of Henry Sugar & Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso

The-Wonderful-Story-of-Henry-Sugar-2023.jpg

Review The Menu, Wonderful Story of Henry Sugar & Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso – Hola, hola. I’m back menulis edisi review film. Sebenarnya ingin berbagi mengenai perkembangan homeschooling anak, tapi rasanya kurang tanpa eksekusinya. Jadi kita tunggu saja perkembangan lebih lanjutnya. 

Akhir-akhir ini jadwal saya agak lowong sehingga saya bisa menyelesaikan baca buku dan bahkan memulai baca buku yang lain. Tapi saya belum mood mengulas buku karena satu dan lain hal. Mungkin lebih baik saya spill ulasan saya mengenai beberapa film. Kebetulan rilisnya masih lumayan baru.

Silahkan dibaca:

The Menu (2022)

the menu (2022) movie - review film di blog Tulisandin

Saya tertarik nonton The Menu karena bintang-bintang di dalamnya; Ralph Fiennes, Nicholas Hoult dan Anna Taylor-Joy. Juga karena mengenai dunia kuliner.

Saya pikir ini film thriller ‘ringan’ karena temanya makanan. Note: saya biasanya suka film atau serial yang menyorot dunia makanan. Tapi, hmm ternyata film ini nggak sama sekali ‘ringan’!

Kisah film ini adalah mengenai rombongan grup yang memilih ikut culinary experience atau pengalaman kuliner di restoran elit yaitu Hawthorne. Hawthorne berada di pulau yang terpencil. Tokoh utamanya adalah Tyler (Nicholas Hoult) yang seorang fanatik makanan elit yang ditemani Margot (Anna Taylor-Joy). Rombongan lainnya adalah pasangan-pasangan dan grup yang memiliki keunikan sendiri; sepasang suami istri yang sudah tua, seorang kritikus makanan, seorang bintang film yang kehilangan tujuan hidup yang datang bersama asistennya dan sekelompok pria pemegang saham. 

Chef di Hawthorne adalah seseorang yang eksentrik dan berkaliber tinggi, Chef Slowik (Ralph Fiennes). Tak cuma kokinya yang ‘intens’ dan aneh, begitu juga dengan kru dan pelayan restorannya. Mereka semua memiliki hawa aneh dan misterius. Ternyata di setiap makanan yang ‘nyeni’ dan memiliki konsep mendalam ada hal yang mencekam di dalamnya. Intinya, grup penikmat makanan ini lama-lama merasa ‘terjebak’ berada dalam tempat itu dan tidak bisa kabur.

Meskipun ingin menyajikan film yang mengerikan (ya memang sih mengerikan sampai bikin ilfil) tapi sayangnya ada beberapa blooper yang ganjil. Bahkan sosok villain dari Ralph Fiennes yang dikenal mencekam sebagai Voldemort di series film Harry Potter saja tidak bisa membantu film ini mendapatkan nilai thumbs up. Alias tetap saja film ini buruk. Ada beberapa karakter yang menurut saya agak lemah dalam penokohannya dan kurang memberikan pondasi yang kuat agar membuat ceritanya lebih solid. 

Serem sih serem tapi ya harus masuk akal juga ya kenapa jadi horor. Saya nonton film ini di Disney Hotstar. Silahkan menonton jika ingin merasakan pengalaman kuliner yang mencekam.

The Wonderful Story of Henry Sugar (2023)

Nggak nyangka ternyata ada film Wes Anderson di Netflix yang ternyata durasinya relatif pendek dari filmnya kebanyakan. Cuma sepanjang 45 menit saja, yang cocok untuk emak yang waktu lowongnya ngga banyak ini. 

Jadi film The Wonderful Story of Henry Sugar ini diadaptasi dari cerita Roald Dahl. Kisahnya mengenai Henry Sugar (Benedict Cumberbatch) yang ingin menguasai teknik melihat tanpa membuka mata demi sukses mendapatkan uang dari berjudi. Namun ketika akhirnya ia menguasai teknik ini, ia melihat perspektif hidup yang berbeda.

Seperti biasa film-film Wes Anderson tidak banyak bikin saya tersentuh dari emosi. Tapi lebih kepada terkesima akan sinematografinya, sisi estetikanya dan warna filmnya yang cantik. Memang banyak bintang film besar yang membintangi film-filmnya, tapi akting mereka kebanyakan datar. Tidak begitu berbeda dengan film ini.

Meskipun begitu saya suka akting Dev Patel yang dulu membintangi film Life of Pi ini. Karena saya yakin dia benar-benar menghapal dialog dan meresapinya. Dan saya malah berpikir aktor-aktor lain dalam film Anderson mungkin cuma membaca skrip dari balik kamera? 

Lucunya, aktor-aktor kadang bisa berperan menjadi cameo atau aktor pendukung lain dan itu tidak dijadikan masalah di film ini. Misalnya Benedict Cumberbatch di adegan lain bisa menjadi aktor pendukung yang tidak/minim memiliki dialog. Lucu sih, tapi sah-sah saja (terserah yang bikin filmnya).

Kalau tidak salah ada dua film pendek lain yang Anderson adaptasi dari Ronald Dahl yang rilisnya hampir berbarengan di layanan streaming film yang sama tapi saya belum nonton.

Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso (2023)

Di suatu malam yang lowong juga akhirnya saya putuskan ikut nonton yang lagi viral di Netflix; Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso (2023). Sudah hampir sedekade kasus pembunuhan dengan kopi sianida, Jessica Wongso dan Mirna ini berlalu tapi misteri siapa sebenarnya pembunuh Mirna masih jadi pembicaraan banyak orang. 

Sejujurnya saya dulu termasuk yang ‘B’ atau biasa-biasa aja dengan kasus ini waktu pertama naik dan bingung kok bisa booming banget ya jaman itu. Bahkan saya sempat bosan kalau lihat berita di TV dan media lain kok yang dibahas ya kasus ini melulu.

Tapi menonton dokumenter ini cukup memberi banyak perspektif akan kasus tersebut. Ada banyak detil yang terlewat oleh saya karena dulu begitu simpang siur beritanya. Saya sih mengharapkan dokumenter ini dibawakan dengan netral dan bagai nonton fitur berita tapi agak intens saja (karena memang kasusnya agak mengerikan ya, diduga dibunuh teman sendiri dan pakai zat kimia mematikan). 

Cara dokumenter ini disajikan memang terkadang fashionable seperti misalnya ada sela-sela gambar kopi diseduh dengan suara mendesis. Tapi juga dramatis membawakannya, dari musik, efek dan pencahayaan. Juga tahu-tahu ada aktris Marcella Zalianty yang lagi di make-up dan ngomongin masyarakat Indonesia yang relatif suka kisah yang mirip sinetron, menurut saya agak aneh saja sih disisipi di tengah dokumenter dan membuat saya bingung kenapa tahu-tahu ada. 

Framing dokumenter ini juga cukup berani menyoroti pihak yang kemungkinan mengkambinghitamkan Jessica Wongso sebagai pembunuh. Saya rasa mungkin filmmaker sini nggak akan berani juga membuat dokumenter dengan sudut pandang seperti film ini.

Yah, film dokumenter tetap saja film dan bebas menyoroti siapa saja, bebas membuat siapapun jadi hero maupun villain. Tetap saja siapa yang benar-benar melakukan to this day no one really knows. Nonton saja untuk mengingat kembali masa booming kasus ini dan untuk kamu yang suka thriller dan kisah kriminal. Yang jelas nonton bersama teman atau keluarga bisa membuat film ini jadi diskusi seru bersama.

Penutup

3 film yang menarik untuk ditonton, 2 terkesan mencekam dan 1 flat meskipun dikemas cantik. Diantara ketiga film ini, mana yang kamu tertarik atau sudah nonton?

This Post Has One Comment

Leave a Reply