#RamadanPrep : Jurnal dan Bacaan Ramadan – Melengkapi rangkaian tulisan mengenai persiapan bulan Ramadan, akhirnya saya tambahkan tulisan ini. Seharusnya ditulis bulan lalu, tapi sudah keburu masuk bulan puasa dan menuju lebaran baru terpikir ditulis.
Kalau tulisan Ramadan Prep sebelumnya saya concern dengan kegiatan anak, kali ini adalah pelengkapnya atau tambahannya. Hitung-hitung bisa jadi acuan untuk kegiatan bulan Ramadan tahun depan.
Anak saya sudah berumur hampir 9 tahun dan masih butuh diberi tantangan untuk mau menulis. Saya sudah berdamai dengan keadaan ini karena ia anak laki-laki yang cenderung lebih suka praktek dan aktivitas fisik. Tapi bukan berarti saya pasrah dan mendiamkan keadaan ini. Tetap saja toh kemampuan menulis tangan itu penting.
Menurut webinar menulis kreatif, anak memang harus dipancing untuk menulis. Sayangnya si kecil tetap tidak terlalu ingin menulis meski saya sudah membebaskannya untuk menggambar di jurnalnya. Dan juga bebas mau pakai media menulis apa.
Beberapa hari sebelum mulai puasa, saya keidean membuat jurnal Ramadan untuk si kecil tulis. Tentunya, saya bertanya dulu padanya apa ia mau menulis dan membuat jurnal Ramadan.
Soalnya menurut pengalaman, kalau anak ngga mau dan kita paksa itu malah jadi bumerang. Juga membuatnya benci dengan hal yang kita ingin dia lakukan. Tahun-tahun sebelumnya malah saya cari printables jurnal Ramadan harian untuk si kecil isi. Tapi ‘nggak laku’ karena si kecil masih kenalan dengan ibadah puasa dan enggan mengisi.
Ternyata kali ini diajak buat sendiri ia mau. Saya bebaskan ia berkreasi membuat jurnal Ramadan sendiri memakai Canva. Tentu ada poin-poin penting dalam jurnal yang saya ingin dia tulis per hari puasa, seperti hydration tracker (agar ia ingat takaran minum air tiap hari), hadits/ayat Qur’an of the day dan lain-lain.
Ia memilih warna kebiruan untuk warna dasar jurnal dan dekorasinya saya bebaskan (kalau ngga salah sih memilih dari template dan disesuaikan lagi). Alhamdulillah, nggak lama jurnal itu jadi desainnya.
Untuk berapa halamannya, saya nggak langsung cetak 30 hari atau 30 halaman sekaligus. Ya, karena saya aja nggak tiap hari mau menulis jurnal akibat mood yang berganti-ganti. Apalagi anak laki-laki yang diminta menulis itu belum tentu mau. Saya cuma print sekitar 15 halaman. Sayang juga kertasnya kalau ujungnya tak terpakai.
Ternyata mencetak 15 halaman saja keputusan yang tepat, karena awal Ramadan si kecil kena sakit batuk dan belum bisa berpuasa. Penghujung Ramadan saya minta si kecil mengisi sampai lembaran habis.
Awalnya sih dia semangat mengisi. Karena sedih juga ngga bisa puasa karena sakit. Ketika akhirnya puasa, dia termotivasi.
Namun biasa ya, kalau dikerjakan secara rutin ada kejenuhan. Tapi minimal dia jadi belajar isi ayat Qur’an dan hadis (walau pilih-pilih juga yang pendek karena menulisnya jadi panjang, halah).
Okelah, sebenarnya dia mau menulis jurnal Ramadan juga sudah membuat saya happy.
Alhamdulillah si kecil punya ketertarikan akan dunia Islami. Kira-kira 1-2 bulan sebelumnya, saya menemukan buku yang baik untuknya baca dan overall sepertinya pas untuk bulan Ramadan. Ya tetap saya menanyakannya apa ia mau membaca buku itu sebelum memesan.
Buku tersebut berisi cerita-cerita terbaik dalam Al Qur’an. Tentunya cocok karena pertama merangkum kisah-kisah hebat di Qur’an yang patut ia tahu. Kedua karena praktis banget bisa jadi panduan belajar misalnya saya sedang berpuasa dan kurang cairan, hihi.
Memang sih, nggak tiap hari juga membaca buku ini. Dan memang di lain hari, kami belajar subjek dan topik lain.
Ada hari-hari dimana dia sangat suka membacanya dan akhirnya dibaca sampai lembar buku habis. Bahkan jadi topik diskusi dengan si Bapak dan kami menemukan referensi lainnya di video online. Yakni mengenai kisah Nabi Musa dan Fir’aun.
Pengalaman ini membuat saya keep a mental note kalau mencarikan bacaan Islami yang anak minati penting juga disiapkan. Tapi jangan lupa untuk turut mengajak anak memilih buku. Ini agar dia akhirnya akan senang membaca tanpa diminta.
Secara garis besar, saya senang Ramadan 2025 ini si kecil lebih semangat puasa. Juga disiplin waktu tidur dan makan. Moga-moga tahun depan kegiatan si kecil lebih produktif lagi. Tapi yang penting ibadah puasanya dan ibadah lain yang terkait dulu.
Terima kasih tantangan blogging level up Mamah Gajah Ngeblog yang memicu saya menulis mengenai keresahan kegiatan anak di bulan puasa. Terima kasih juga sudah membaca, ya.
What’s the thing you’re most scared to do? What would it take to get you…
Refleksi Homeschooling 2025 - Setahunan 2025 saya cukup jarang menulis soal Homeschooling. Bukan apa-apa sih. Lebih…
Berlika-Liku, Kisah Single Mother dari Mesir yang Berusaha Bangkit Lagi - Saya akui tahun 2025,…
Merenung dari Drama Mengenai Frenemy, Sebuah Pembelajaran - Sejak bahas drakor Divorce Insurance (2025), saya…
Black Cat & Golden Retriever Theory dalam Film-film Romantis Terkenal - Ternyata ada istilah baru…
Dilema Tas Branded - Sore itu Rara sibuk mendampingi si kecil ikut kelas online. Mayang…
View Comments
Kasus yang sama juga nih dengan anakku yang laki-laki. Susah untuk diharap rajin mengisi jurnal atau sekedar menulis.
Tahun depan aku mau bikin jurnal begini deh mba. Bagus juga untuk membiasakan anak menulis dan jadi teratur kegiatan selama ramadhannya. 👍👍.
Pinter si Abang, bisa mendesign sendiri dengan bantuan Canva, dan hasilnya juga cakep . Mungkin memang hrs anak yg coba buat, supaya dari awal dia merasa tertarik ya mba